Kamis, April 16, 2026
Berita

Sosialisasi Alkitab Deuterokanonika TB2 dan Lectio Divina di Stasi Sta. Maria Fatima Batakte: Umat Antusias Belajar dan Mendalami Sabda Tuhan

Batakte, 02 Agustus 2025 — Dalam semangat pewartaan dan cinta akan Sabda Tuhan, Tim Relawan Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang hadir di Stasi Sta. Maria Fatima Batakte untuk mengadakan Sosialisasi Alkitab Deuterokanonika TB2 dan Pelatihan Lectio Divina. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini disambut dengan penuh antusias oleh umat bersama Pastor Stasi, Romo Marselinus Soge, Pr (Romo Celo), serta pengurus stasi.

Setibanya di Batakte, tim disambut hangat oleh umat bersama Bapak Amatus Bhela, Wakil Ketua Stasi, dan para pengurus KUB. Kegiatan dibuka dengan doa dan berkat dari Romo Celo yang dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan harapannya agar seluruh umat, terutama yang hidup sebagai minoritas Katolik di tengah masyarakat mayoritas non-Katolik, semakin mencintai Kitab Suci.

Evi Lemba membawakan materi pertama tentang Alkitab Deuterokanonika TB2. Ia menjelaskan bahwa “Deuterokanonika” berarti daftar resmi kedua kitab-kitab suci yang diakui Gereja Katolik, seperti Tobit, Yudit, Barukh, Sirakh, dan Makabe. Revisi dalam TB2 dilakukan untuk memperjelas makna teks agar sesuai dengan konteks bahasa zaman sekarang. Diskusi berlangsung hangat dengan banyak pertanyaan dari umat yang disambut dengan penjelasan sabar dari narasumber.

Salah satu peserta, Bapak Bernad Sau, Ketua KUB St. Petrus, mengungkapkan kegembiraannya atas kegiatan ini: “Kami yang belum tahu menjadi tahu, dan yang sudah tahu menjadi lebih tahu.” Sementara dari kalangan OMK, Agatha mempertanyakan alasan penerjemahan Kitab Suci. Evi menjawab bahwa penerjemahan memungkinkan umat memahami isi Kitab Suci dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka.

Materi kedua tentang Lectio Divina dipandu oleh Magdalena Hokor, yang memperkenalkan lima tahap: Lectio, Meditatio, Oratio, Contemplatio, dan Actio. Peserta diajak mempraktikkan metode ini dengan teks dari Lukas 5:1–11. Antusiasme terlihat jelas ketika peserta berebut mengajukan pertanyaan dan menjawab refleksi melalui pendekatan 5W+1H.

Kegiatan hari pertama ditutup dengan Ibadat Taizé, dipimpin oleh Ance Panggur, menciptakan suasana hening dan mendalam dalam doa dan nyanyian di malam yang sejuk. Tim relawan kemudian menginap di rumah-rumah umat sesuai dengan 4 KUB yang ada, mempererat relasi dan saling menimba pengalaman iman.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat untuk mendalami Sabda Tuhan terus hidup dan bertumbuh di tengah umat, bahkan di tempat-tempat terpencil sekalipun. (Eta Arakian)

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *