Dari Laut Tiberias ke Hati Umat: Rekoleksi dan Pengakuan Devosan Kerahiman Ilahi Kupang Teguhkan Iman
Kupang, 11 April 2026 — Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Kupang (K3I KAK) melaksanakan rekoleksi dan penerimaan Sakramen Tobat (pengakuan dosa) pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Unit Ibrani Seminari Tinggi St. Mikhael. Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian novena Kerahiman Ilahi yang telah dijalani selama sembilan hari, dimulai sejak Jumat Agung hingga sehari sebelum Minggu Kerahiman Ilahi.
Sekitar 50 devosan ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung dalam suasana hening, khidmat, dan penuh penghayatan. Rekoleksi dipandu oleh RD. Sipri Senda yang mengangkat permenungan dari Injil Yohanes 21:1–14, tentang penampakan Yesus kepada para murid di tepi Danau Tiberias.
Dalam refleksinya, RD. Sipri Senda mengajak umat untuk menyadari bahwa pengalaman para murid yang kembali menjadi nelayan mencerminkan kondisi manusia yang sering kali kembali pada kehidupan lama saat mengalami kegagalan atau keputusasaan. Para murid yang pertama dipilih Tuhan ini kembali ke mata pencahariannya sebagai nelayan. Di danau Galilea atau Genezaret, sebutan nama lain dari Tiberias, murid-murid ini dipilih dan ditetapkan Yesus untuk beralih dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Semalaman mereka mencari ikan tetapi tak satupun yang mereka peroleh. Di saat kekecewaan dan keputusasaan mereka, Tuhan hadir memberikan pengharapan. Kehadiran Yesus yang bangkit menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia hadir, memanggil, dan memulihkan serta memberikan peneguhan dikala kita dalam kondisi tak ada harapan.
“Yesus datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan. Ia masuk dalam situasi hidup kita yang paling sederhana sekalipun, bahkan dalam kegagalan kita,” ungkap RD. Sipri Senda. Ia juga menekankan pentingnya ketaatan kepada sabda Tuhan, sebagaimana para murid yang akhirnya memperoleh tangkapan melimpah setelah mengikuti perintah Yesus untuk menebarkan jala. Para Devosan harus bertransformasi hidup dari cara lama kepada hidup yang fokus pada kehendak Yesus yang bangkit. Dalam hidup diutamakan pengampunan, pengorbanan, dan cinta kasih kepada sesama sebagai Yesus telah menunjukkan kasihNya yang paling agung bagi kita. Dia rela sengsara, wafat dan bangkit bagi kita. Sebagai Devosan harus kembali kepada spiritualitas kerahiman Ilahi yakni memohon belas kasih Allah atau hidup mengandalkan Tuhan dan setelah mendapatkan kerahiman Tuhan perlu dibagikan melalui perbuatan cinta kasih kepada sesama manusia.

Rekoleksi ini menjadi ruang refleksi yang mendalam bagi para devosan setelah menjalani novena Kerahiman Ilahi. Selama sembilan hari, umat diajak untuk merenungkan kasih dan kerahiman Allah melalui doa yang intens. Puncaknya, umat dipersiapkan untuk mengalami pembaruan hidup melalui Sakramen Tobat.
Pelayanan pengakuan dosa dilayani oleh tiga imam, yakni RD. Yos Nahak, RD. Yuda, dan RD. Iren. Dengan penuh kesabaran dan ketulusan, para imam melayani umat yang datang dengan kerinduan untuk berdamai dengan Tuhan. Suasana doa yang mendalam menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan, menciptakan pengalaman spiritual yang menyentuh hati.
Bagi para peserta, pengakuan dosa menjadi momen penting untuk mengalami kasih Allah secara nyata. Banyak devosan mengungkapkan rasa syukur karena diberi kesempatan untuk membersihkan diri secara rohani dan memulai kembali hidup dengan hati yang baru. “Saya merasa damai dan dikuatkan kembali. Ini benar-benar pengalaman iman yang luar biasa,” ujar salah satu peserta.
Rangkaian kegiatan yang dimulai dari novena, dilanjutkan dengan rekoleksi dan pengakuan dosa, serta berpuncak pada perayaan ekaristi pada hari Minggu Kerahiman Tuhan, menunjukkan perjalanan iman yang utuh dalam spiritualitas Kerahiman Ilahi. Umat tidak hanya diajak untuk berdoa, tetapi juga untuk bertobat dan mengalami kasih Allah secara personal.
Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Kupang terus berkomitmen untuk membina umat dalam menghidupi spiritualitas kerahiman. Devosi ini tidak berhenti pada doa semata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata kasih kepada sesama, sebagaimana diajarkan dalam pesan Kerahiman Ilahi.

Melalui kegiatan ini, para devosan diharapkan semakin diteguhkan dalam iman serta mampu menjadi saksi kasih Allah di tengah kehidupan masyarakat. Rekoleksi dan pengakuan ini menjadi momentum pembaruan yang menggerakkan umat untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan dan lebih peduli terhadap sesama.
Dengan semangat yang diperbarui, para devosan diutus kembali ke tengah dunia untuk menghadirkan wajah kerahiman Allah, membawa damai, pengampunan, dan harapan bagi siapa saja yang dijumpai. Sebab, kerahiman sejati tidak hanya dirasakan, tetapi juga harus dibagikan.
