Jumat, April 17, 2026
Suara Gembala

SURAT GEMBALA PASKAH 2026 USKUP AGUNG KUPANG

“Damai sejahtera-Ku Kutinggalkan bagimu; damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu”

(Yoh 14:27)

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Ketika kita merayakan Paskah tahun ini, kata-kata Tuhan kita bergema dengan kejelasan dan urgensi yang berbicara langsung kepada situasi dunia kita saat ini: “Damai sejahtera-Ku Kutinggalkan bagimu; damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan, tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh 14:27). Kata-kata ini diucapkan Yesus di Senakel, Ruang Atas, pada malam sebelum SengsaraNya, yang merupakan bagian dari amanat perpisahan-Nya. Inilah sebuah kesaksian kasih yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya sebelum Ia dengan rela melangkah menuju penderitaan, pengkhianatan, dan kematian. Kristus tidak menjanjikan pelarian dari pergolakan dunia. Sebaliknya, Ia menawarkan damai yang tidak dapat diciptakan, dinegosiasikan, atau dipaksakan oleh dunia; damai yang berakar dalam persekutuan dengan Allah, yang lahir dari Salib, dan yang dinyatakan dalam Kebangkitan.

Selama Pekan Sengsara yang dimulai dengan Perayaan Minggu Palma, kita merenungkan kontras yang tajam antara kekerasan dunia di satu pihak, dan damai Kristus, di pihak lain. Dunia menanggapi-Nya dengan kebencian, tuduhan palsu, dan penyaliban, namun Kristus menanggapi semuanya itu dengan pengampunan, belas kasih, dan cinta yang rela berkorban. Santo Yohanes Krisostomus dalam homili-homilinya seputar pekan sengsara mengingatkan kita bahwa di mana Kristus hadir, di situ ada damai, dan di mana ada damai, di situ ada Kristus. Damai ini bukan sekadar perasaan, melainkan buah dari kekuatan ilahi. Inilah damai yang memungkinkan Kristus berdiri diam, tenang, namun tegar di hadapan Pilatus, mengampuni para algojo-Nya, dan turun ke dalam dunia orang mati tanpa rasa takut.

Pada hari pertama sesudah Paskah, Tuhan yang bangkit masuk ke dalam ruangan yang terkunci, tempat para murid bersembunyi dalam ketakutan, dan mengucapkan kata yang sama: “Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh 20:19). Ini bukan sekadar salam, melainkan anugerah yang dimeteraikan oleh kemenangan atas maut, anugerah yang mengubah para murid yang ketakutan menjadi rasul-rasul yang berani. Kebangkitan bukan hanya menyangkut kemenangan Kristus, tetapi juga awal dari transformasi kita. Kita tidak dapat mewartakan kabar gembira Kebangkitan jika hati kita masih terkunci dalam kecemasan, kebingungan, ketakutan, atau keputusasaan.

Pada Paskah Tahun ini, kata-kata Kristus yang bangkit, “Damai sejahtera bagi kamu”, terasa semakin kuat menggema di seantero dunia. Kita menyaksikan perang antar-negara, krisis kemanusiaan, dan merosotnya martabat manusia di banyak tempat. Orang-orang lemah, rentan, dan tidak bersalah terus menjadi korban, sementara pihak-pihak yang merasa diri berkuasa terus menempuh jalan kekerasan dan peperangan. Selain bencana-bencana sosial ini, muncul pula aneka bencana alam di berbagai tempat: gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, tanah longsor, dan ancaman kekeringan ekstrem akibat eksploitasi terhadap alam yang tidak bertanggungjawab. Semuanya itu mendatangkan bukan saja kecemasan, melainkan ketakutan menyangkut masa depan hidup manusia.

Dalam situasi seperti ini, janji damai Kristus bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan menjadi kebutuhan yang mendesak; satu-satunya damai yang mampu menyembuhkan luka bangsa-bangsa dan luka hati manusia. Mendiang Paus Yohanes Paulus II pernah mengingatkan bahwa “damai bukan sekadar tidak adanya perang. Damai adalah buah dari keadilan dan hasil dari cinta-kasih”. Karena itu, selain berdoa untuk perdamaian dunia, kita juga berjuang untuk menciptakan damai dalam lingkungan hidup kita melalui: kebenaran, keadilan, cinta-kasih, solidaritas, belas-kasih, pengampunan, rekonsiliasi, serta harapan yang teguh.

Sebelum damai berakar di dunia, damai itu harus terlebih dahulu berakar dalam diri kita. Damai Kristus tidak dipaksakan dari luar, melainkan diterima melalui pertobatan, doa, dan rekonsiliasi dengan Allah. Pekan Suci mengundang kita untuk memeriksa hati kita sendiri: Apakah kita masih menyimpan dendam dan enggan mengampuni? Apakah kita memelihara kemarahan lebih dari doa? Apakah kita mencari kehendak Allah atau hanya kehendak kita sendiri? Dan apakah kita membiarkan Kristus menenangkan berbagai badai dalam diri kita? Santo Agustinus mengajarkan: “Hati kami gelisah sampai ia beristirahat dalam Engkau, ya Tuhan.” Hati yang damai dengan Allah menjadi wadah damai dengan sesama. Keluarga yang damai menjadi saksi Injil. Paroki yang damai menjadi tanda harapan. Bangsa yang damai serta harmoni dengan Allah, sesama, dan alam semesta menjadi kuat, teguh, dan merdeka.

Kristus telah bangkit! Kata-kata ini merangkum seluruh makna keberadaan kita, sebab kita tidak diciptakan untuk kematian melainkan untuk kehidupan. Paskah adalah perayaan kehidupan! Allah menciptakan kita untuk hidup dan menghendaki keluarga manusia bangkit kembali! Di mata-Nya, setiap kehidupan sungguh amat berharga, termasuk kehidupan mereka yang sangat rentan: bayi-bayi dalam kandungan, perempuan dan anak-anak, para lanjut usia, orang-orang sakit dan difabel, para migran dan perantau, serta mereka yang menjadi tawanan perang.

Bagi kita, kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga perutusan. Kristus mengutus kita sebagai pembawa damai-Nya: untuk menghibur yang menderita, membela yang lemah, menyuarakan kebenaran dengan berani, membangun jembatan ketika orang lain membangun tembok, berdoa tanpa henti bagi perdamaian dunia dan semua saja yang menjadi korban kekerasan, serta menghadirkan budaya kehidupan di tengah budaya kematian. Dunia membutuhkan orang-orang Kristen yang memancarkan damai dari Tuhan yang bangkit: bukan damai yang pasif, tetapi damai Paskah, yang mengalir dari kubur yang kosong.

Saat kita merayakan kemenangan Kristus atas maut, semoga damai-Nya meraja di dalam hati kita, di dalam keluarga, komunitas, paroki, masyarakat dan bangsa kita. Semoga Bunda Allah, Ratu Damai, mendoakan kita. Semoga Kristus yang bangkit menghibur yang terluka, dan mengembalikan mereka yang tertawan. Semoga Ia menganugerahkan kebijaksanaan kepada para pemimpin bangsa, keberanian kepada umat beriman, dan harapan kepada semua yang menderita. Dan semoga sabda-Nya menyertai kita dalam seluruh perjalanan hidup dan ziarah iman kita selanjutnya: “Damai sejahtera-Ku Kutinggalkan bagimu; damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu”. Selamat merayakan Pesta Paskah. Kristus telah bangkit, Alleluia!!!

 

Kupang, 4 April 2026
Salam dan berkat,

Mgr. Hironimus Pakaenoni
Uskup Agung Kupang

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *