Relawan Komisi Kitab Suci KAK Sosialisasikan Alkitab TB2 dan Gelar Pelatihan Lectio Divina di Manusak
Manusak, 19 Juli 2025 — Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang, yang diwakili oleh Tim Relawan yang terdiri dari 10 orang, melakukan Kegiatan Sosialisasi Alkitab Deuterokanonika TB2 dan Pelatihan Lectio Divina bagi umat Kuasi Paroki St. Leonardus Manusak. Kegiatan ini terlaksana pada hari Sabtu-Minggu, 19-20 Juli 2025, bertempat di gereja Kuasi Paroki.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh RD. Albano C. Carvalho, selaku Pastor Kuasi Paroki. Dalam sambutan singkatnya, Romo Al, begitu beliau disapa, mewakili seluruh umat Kuasi Paroki mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas kesempatan yang berharga, dimana boleh diadakan kegiatan Sosialisasi Alkitab Deuterokanonika TB2 bersama umat Kuasi Paroki St. Leonardus Manusak. “Ini adalah kegiatan perdana bagi umat di sini, dan umat sangat menyambut baik kegiatan ini. Semoga kesempatan baik ini bisa digunakan oleh umat bersama Tim Relawan Komisi KS Keuskupan untuk memperkenalkan Alitab TB2 di sini dan belajar bersama tentang Alkitab Deuterokanonika TB2”, ungkap Romo Al dengan semangat.

Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh kurang lebih 60 peserta yang terdiri dari pengurus Dewan Pastoral Kuasi (DPK), para ketua-ketua KUB dan wilayah, pengurus Dewan Pastoral Stasi dari Naibonat dan Kuaputu, utusan OMK, THS-THM dan kelompok kategorial lainnya seperti Legio Maria.
Di hadapan umat yang sangat antusias menghadiri kegiatan ini, Evi Lemba, yang membawakan materi sosialisasi mengatakan bahwa “Alkitab Deuterokanonika yang dipegang umat selama ini adalah alkitab Terjemahan Baru atau Alkitab TB, terbitan tahun 1974. Bahasa yang digunakan dalam terjemahan 1974 ini tentunya terdapat banyak ungkapan yang kalau dibaca oleh generasi sekarang, sulit dipahami. Banyak istilah tahun 1974 yang tidak dimengerti oleh generasi sekarang. Alasannya karena adanya perkembangan pesat dalam bahasa Indonesia. Sehingga, dibuatlah revisi terjemahan yang baru yang kemudian dikenal dengan sebutan Alkitab TB2 atau Terjemahan Baru kedua”.

Pada sesi diskusi atau pertanyaan, beberapa umat bertanya apakah ada alasan selain bahasa, sehingga diadakan revisi pada Alkitab Deuterokanonika. “Tidak ada. Alasan revisi adalah agar pembaca jaman sekarang bisa mengerti isi Alkitab Deuterokanonika dengan terjemahan yang sesuai dengan makna bahasa Indonesia sekarang. Kata-katanya direvisi, isi Alkitab tetap sama”, tegas Evi Lemba yang kemudian memberikan beberapa contoh kata dan ungkapan yang direvisi, dan mengajak peserta untuk membuat perbandingan antara alkitab TB dan TB2.
Selanjutnya, peserta masuk pada bagian kedua dari kegiatan, yakni pelatihan Lectio Divina yang dipandu oleh Magdalena Hokor. Mengawali pelatihan ini, Magdalena menjelaskan terlebih dahulu arti Lectio Divina dan tahapannya.
Lectio Divina secara harafiah berarti “bacaan ilahi” yang merupakan praktek membaca dan merenungkan sabda Allah dengan tujuan untuk berdoa dan hidup dari Sabda Allah. Ada 5 tahapan Lectio Divina yang bisa digunakan dalam membaca dan merenungkan Sabda Allah. Mulai dari Lectio (bacaan: membaca), meditatio (renungan: merenungkan), Oratio (Doa), Contemplatio (pendalaman/penghayatan) dan actio (aksi nyata). Kelima tahapan ini merupakan satu kesatuan langkah yang membantu umat untuk membaca, merenungkan dan mendalami pesan teks dari Sabda Allah.

Untuk memahami tahapan Lectio Divina, peserta kemudian diajak untuk langsung praktek membaca dan merenungkan kitab suci dengan metode ini. Teks yang dipakai dalam pelatihan Lectio Divina adalah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dari injil Markus 6:30-44. Diawali dengan membaca teks secara bergantian kemudian peserta dituntun untuk mendalami teks dengan menggunakan rumus sederhana 5W + 1H (who,what, where, when, why dan how).
Peserta sangat antusias pada bagian ini dengan membuat pertanyaan dan menemukan jawaban atas pertanyaan, yang terdapat dalam teks yang dibaca. Kurang lebih 1 jam, peserta larut dalam pelatihan Lectio Divina. Pertanyaan dan jawaban beragam dilontarkan oleh peserta dan dijawab/direspon dengan baik oleh Magdalena. Di akhir sesi pelatihan ini, Magdalena kemudian menyimpulkan pesan teks yang dibacakan, berdasarkan pendalaman teks yang telah dilakukan bersama-sama.
Kegiatan Sosialisasi hari pertama ini ditutup dengan ibadat Taize bersama. Semua peserta masuk dalam keheningan doa taize. Ruang dalam gereja yang sebelumnya dipenuhi dengan riuhnya pertanyaan dan jawaban pendalam teks kitab suci, berubah menjadi keheningan yang begitu tenang. Peserta dihantar dalam doa dan lagu-lagu pendek khas taize. Nyala lilin-lilin kecil yang menggantikan nyala lampu, seakan menghantar peserta dalam permenungan yang lebih intim akan pentingnya Sabda Tuhan dalam hidup.
Di penghujung kegiatan, Ibu Kristin, salah satu peserta kegiatan, mengaku sangat senang. “Terima kasih tim relawan telah hadir bersama kami. Saya pribadi begitu tersentuh dengan kegiatan ini, teristimewa keheningan ibadat taize tadi. Sangat tenang dan membuat hati terasa begitu damai”, ungkapnya dengan ekspresi penuh gembira.

Di lain pihak, Bapak John, mengatakan keinginannya untuk mau belajar lebih dalam dan lebih banyak lagi tentang Kitab Suci. “Selama ini kami jarang baca kitab suci. Kami hanya mendengar Sabda Tuhan lewat bacaan-bacaan yang dibacakan pada saat perayaan ekaristi dan memahami sabda Tuhan hanya melalui khotbah/homili pastor di gereja. Tetapi setelah adanya sosialisasi dari Komisi Kitab Suci Keuskupan seperti ini, ditambah dengan pelatihan dasar Lectio Divina tadi, saya mempunyai keinginan untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang alkitab Deuterokanonika TB2 dan membacanya dengan metode yang diajarkan tim”, ujarnya dengan semangat.

Malam Minggu di Manusak menjadi malam minggu terindah bagi peserta kegiatan (termasuk ke sepuluh anggota relawan), karena semua yang hadir merasakan sentuhan Sabda Tuhan. Sebelum meninggalkan tempat kegiatan, semua peserta duduk makan bersama dengan menu-menu sederhana yang disiapkan oleh umat dari hasil usaha mereka, yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Semoga Sabda Tuhan perlahan mulai membuka pikiran dan hati banyak orang di kuasi paroki St. Leonardus Manusak, sehingga semakin banyak yang menggunakan Sabda Tuhan sebagai pedoman dalam menjalani hidup. (Magdalena Hokor – Relawan Delkit KAK).
