Sabtu, Juli 20, 2024
Renungan Harian

Senin, 18 September 2023

1Tim. 2:1-8;
Luk. 7:1-10.

Iman bukanlah sesuatu yang bisa dilihat secara kasat mata, karenanya tak seorang pun dapat melihat seberapa besar iman orang lain. Namun, kita bisa melihat kualitas iman seseorang lewat perilaku hidupnya. Iman yang baik tentu saja akan membuahkan ucapan, karakter dan tindakan yang baik pula. Dan satu hal yang pasti, iman seseorang tidaklah selalu ditentukan seberapa dekatnya dia dengan sumber iman itu. Bisa jadi orang yang begitu dekat dengan kitab suci dan pelayanan di gereja justru tidak memiliki kualitas iman yang baik. Ia senang bergosip, pendendam, sulit memahami orang lain, arogan dan lain sebagainya.

Dalam warta Injil hari ini kita semua mendengarkan kisah seorang perwira, yang dalam pemahaman orang Yahudi dianggap sebagai seorang kafir, namun ia justru menunjukkan sikap iman yang positif terhadap Yesus. Ia percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Namun, ia menyadari bahwa dirinya bukan orang Yahudi. Maka, ia meminta bantuan tua-tua Yahudi untuk menyampaikan permintaannya kepada Yesus. Ketika Yesus sedang menuju ke rumahnya, datanglah utusan yang menyampaikan bahwa perwira itu merasa tidak pantas menerima Yesus di rumahnya. Sang perwira menyampaikan pesan dengan berkata, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”. Begitu besar iman dan kepercayaannya pada Yesus bahwa hambanya bisa disembuhkan.

Bagi Perwira ini, ucapan Yesus sama dengan kehadiran-Nya. Ia menyadari ketidakpantasannya untuk menerima Yesus. Namun, ia yakin bahwa Yesus sanggup menyembuhkan hambanya yang sakit. Ketulusannya dan kepedulian terhadap hambanya yang sakit adalah indikasi kualitas iman perwira tersebut. Maka, tidaklah heran kalau Yesus memuji iman sang perwira.

Dari kisah tentang sang perwira ini, kita diajar bahwa beriman berarti hidup dalam terang kasih Allah dengan menjadikan diri kita berkat bagi sesama dan dunia. Iman yang besar berarti melakukan yang bisa dilakukan untuk membantu sesama yang kecil dan membutuhkan pertolongan. Iman yang besar berarti melakukan semuanya itu dengan tulus ikhlas dan tanpa paksaan. Semakin kita beriman, semakin pula kita peduli dan mengasihi.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *