Rekoleksi OMK Keuskupan Agung Kupang: Menemukan Diri dan Kembali Ke Rumah Bapa
Kupang, 21 Maret 2026 — Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Kupang menyelenggarakan kegiatan rekoleksi bagi Orang Muda Katolik (OMK) dari berbagai paroki di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (21/3), pukul 10.00 WITA, dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.
Mengangkat tema khusus “Bagaimana Kita Menemukan Diri”, rekoleksi ini mengajak kaum muda untuk masuk dalam refleksi mendalam tentang jati diri, arah hidup, serta relasi dengan Allah dan sesama. Teks Kitab Suci yang menjadi inspirasi utama adalah Injil Lukas 15:11-32, yakni perumpamaan tentang anak yang hilang.
Kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari persiapan rohani OMK dalam menyambut perayaan Paskah. Melalui rekoleksi ini, kaum muda diajak untuk melakukan pertobatan, pembaruan diri, dan memperdalam relasi dengan Tuhan, sehingga semakin siap merayakan misteri kebangkitan Kristus dengan hati yang diperbarui.

Dalam refleksi yang dibagikannya, Uskup Agung Kupang, Mgr Hironimus Pakaenoni, menegaskan bahwa setiap orang muda diajak untuk menyadari bahwa dirinya dicintai oleh Tuhan apa adanya—dengan segala duka, kecemasan, harapan, dan kegembiraan. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk menemukan kembali arah hidup dan berani “pulang” kepada Bapa yang penuh kasih.
Kisah anak yang hilang dipaparkan sebagai pewahyuan kasih Allah yang nyata dalam sejarah keselamatan manusia. Sosok ayah dalam perumpamaan tersebut menggambarkan Allah yang senantiasa menantikan kembalinya manusia, sementara anak yang hilang melambangkan manusia yang jatuh dalam dosa namun dipanggil kembali kepada kasih Ilahi. Perjalanan anak bungsu menjadi simbol perjalanan jiwa manusia yang mencari makna hidup dan akhirnya kembali kepada sumber kasih sejati.
Lebih lanjut, Mgr Hironimus juga menggarisbawahi bahwa kasih Allah menjangkau semua orang, terutama mereka yang tersingkir dan terluka. Kasih itu mampu menyentuh hati dan mengubah hidup. Para peserta diajak untuk melihat diri mereka dalam ketiga tokoh perumpamaan: sebagai anak yang hilang yang membutuhkan pengampunan, sebagai anak sulung yang bergumul dengan rasa iri dan merasa paling benar, serta sebagai ayah yang dipanggil untuk mengampuni tanpa syarat.

Dari perspektif Gereja, sosok ayah dalam perumpamaan ini menjadi gambaran nyata Allah yang penuh kerahiman. Gereja juga melihat dalam diri anak yang hilang perjalanan manusia berdosa yang terus-menerus dipanggil untuk kembali. Sementara itu, sikap anak sulung menjadi peringatan agar umat tidak terjebak dalam sikap eksklusif dan merasa diri paling benar, seolah kasih Allah adalah sesuatu yang terbatas.
Menariknya, refleksi ini juga diperkaya dengan pendekatan psikologis. Perjalanan anak yang hilang dipahami sebagai proses pendewasaan diri—sebuah perjalanan eksplorasi identitas yang kadang ditandai dengan pemberontakan terhadap nilai-nilai lama. Namun, kedewasaan sejati ditemukan ketika seseorang mampu menerima kembali akar, tradisi, dan jati dirinya. Penerimaan tanpa syarat dari sang ayah menjadi simbol penting bagi perkembangan pribadi yang sehat, sementara sosok anak sulung mencerminkan konflik batin berupa iri hati yang belum terselesaikan.

Setelah sesi renungan dari Bapa Uskup, para peserta diajak untuk mendalami pengalaman pribadi melalui sharing kelompok. Para OMK dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil agar dapat saling berbagi secara lebih terbuka dan mendalam. Dalam sesi ini, Uskup Agung Kupang juga memberikan sejumlah pertanyaan reflektif sebagai panduan sharing, antara lain: pengalaman menjauh dari keluarga, sesama, atau nilai iman serta pelajaran yang dipetik; kesadaran saat merasa tersesat dari Tuhan dan langkah awal untuk kembali; sikap terhadap sesama yang menyakiti serta proses belajar mengampuni; pergulatan dengan iri hati, kesal, dan cemburu serta cara mengelolanya agar tidak berujung pada tindakan negatif; pengalaman kegagalan yang membentuk pribadi menjadi lebih baik; serta pergulatan menerima bagian diri yang sulit dan menyerahkannya kepada Tuhan.

Melalui rekoleksi ini, OMK diharapkan semakin mampu mengenal diri secara utuh, memperdalam iman, serta menghadirkan wajah Gereja yang penuh kasih—yang mau menerima, merangkul, dan mengampuni. Sebuah panggilan untuk tidak hanya kembali kepada Allah, tetapi juga menjadi tanda kasih-Nya di tengah dunia, terlebih dalam menyambut sukacita Paskah.
