Iman Harus Hidup dalam Perbuatan, Pesan Katekese APP di KUB Sto. Mikhael Malaikat Agung
Kupang, 20 Maret 2026 – Kegiatan katekese di KUB Sto. Mikhael Malaikat Agung dalam rangka Aksi Puasa Pembangunan (APP) memasuki pertemuan keempat dengan mengangkat tema “Wujud Misi Ber-APP adalah Melakukan Perbuatan-Perbuatan Baik Allah.” Pertemuan ini berlangsung dalam suasana penuh refleksi dan semangat pembaruan iman, serta dipandu oleh fasilitator RD. Sipri Senda yang memantik suasana penuh semangat dan menyulut umat dalam berbagi pengalaman iman.
Tema yang diangkat terinspirasi dari bacaan Kitab Suci Yakobus 2:14–26 yang menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Dalam pemaparannya, RD. Sipri Senda menekankan bahwa iman kristiani tidak berhenti pada pengakuan lisan semata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mencerminkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Iman sebagai tanggapan manusia terhadap Wahyu Allah harus dihidupkan melalui perbuatan cinta kasih. Ia menjelaskan bahwa iman sejati selalu menghasilkan buah, yakni perbuatan baik yang membawa dampak bagi sesama. Oleh karena itu, setiap umat dipanggil untuk tidak hanya menjadi pendengar Sabda, tetapi juga pelaku Sabda. “Iman yang hidup adalah iman yang bergerak, iman yang berani keluar dari diri sendiri untuk melayani dan mengasihi,” ungkapnya.

Di masa ini kita melihat kenyataan yang memprihatinkan antara lain berbagai kasus bunuh diri atau banyak yang putus harapan, adanya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), orang-orang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir. Ada juga kasus-kasus pembunuhan, asusial, dan berbagai kejadian yang menuntut perbuatan-perbuatan baik kita.
Beberapa umat membagikan pengalaman dalam mewujudnyatakan iman melalui perbuatan-perbuatan kasih. Diantaranya Bapak Stef Alo sekeluarga menolong umat yang tak dikenal. Seorang Ibu berkeyakinan lain yang sedang mengandung datang menyerahkan diri untuk ditolong dan akhirnya melahirkan, dibesarkan anaknya sampai saat ini. Ibu dan anak ini tinggal Bersama sampai saat ini seperti keluarga sedarah. Ibu Ida dalam kisahnya menjaga seorang anak yang berkeyakinan lain sejak usia empat bulan sampai saat ini sudah tiga tahun. Anak tersebut dirawat dan diasuh selayaknya anak kandung, karena anak tersebut dari umat yang susah dan berbeda keyakinan. Namun anak ini sungguh menuruti Ibu Ida sekeluarga dengan baik dan bahkan selalu minta untuk dibawa ke Gereja setiap kali pergi misa. Ibu Paulina juga menolong orang tak dikenal dengan memberi dalam bentuk uang meskipun hanya separuh dari permintaannya. Perbuatan baik ini didasari oleh belas kasihan karena orang tua tak dikenal datang Bersama anaknya.
Ibu Emerensiana berbagai cerita tentang hubungan kakak beradik yang sempat tidak baik ketika kematian Sang Ibunda terkasih. Namun seiring berjalanya waktu keduanya sudah saling mengampuni. Ibu Wati mengisahkan menolong sesama yang membutuhkan, namun disalahgunakan kebaikan ini. Sesama yang setelah ditolong tidak mengindahkan kesepakatan awal dan bahkan diberikan tempat untuk usaha. Namun, akhirnya harus Ikhlas meskipun sejumlah bantuan diberikan yang dalam perjanjian mesti harus dikembalikan.

Melalui refleksi bersama, peserta katekese diajak untuk meneladani Guru Ilahi, Yesus Kristus, yang senantiasa hadir melalui tindakan kasih, pengorbanan, dan pelayanan tanpa pamrih. Wujud nyata dari semangat APP ini diharapkan tampak dalam tindakan sederhana namun bermakna, seperti membantu sesama, berbagi dengan yang membutuhkan, serta menjaga persaudaraan dan solidaritas. Penegasan ini disampaikan oleh Fasilitator.
Kegiatan katekese ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran iman, tetapi juga menjadi momentum pembaruan komitmen umat untuk menghidupi iman secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, iman tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjadi kekuatan yang menggerakkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, adil, dan penuh kasih.
Melalui pertemuan keempat ini, umat diharapkan semakin menyadari bahwa misi ber-APP bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan panggilan untuk terus menerus menghadirkan kebaikan Allah di tengah dunia. Sebab, seperti ditegaskan dalam Kitab Suci, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.(ST)
