Rabu, Agustus 26, 2026
Berita

Hari Kedua TOT Komsos: Menghidupkan Mimpi Gereja melalui Imajinasi Profetik

Muntilan, 25 Agustus 2026 — Hari kedua Training of Trainers (TOT) Komunikasi Sosial (Komsos) KWI di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya, Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah, mengajak para peserta memasuki refleksi yang lebih mendalam mengenai identitas dan perutusan Komsos. Komsos tidak cukup dipahami sebagai bagian Gereja yang bertugas membuat konten, mendokumentasikan kegiatan, atau menyebarluaskan informasi. Lebih dari itu, Komsos dipanggil menjadi ruang refleksi, imajinasi, dan harapan bagi Gereja dalam membaca realitas sekaligus membayangkan masa depan yang lebih manusiawi.

Refleksi tersebut disampaikan Rm. Dr. Fransiskus Wawan Setyadi, SJ, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dalam sesi mengenai “Imajinasi Profetik: Komsos sebagai Ruang Mimpi Gereja.” Sesi yang diikuti para Ketua Komisi Komsos dari berbagai keuskupan di Indonesia bersama para pegiat komunikasi sosial ini dimoderatori RBE Agung Nugroho.

Komsos bukan sekadar ruang produksi konten

Sejak awal pemaparannya, Rm. Wawan mengajak peserta keluar sejenak dari rutinitas teknis produksi komunikasi. Menurutnya, Komsos membutuhkan keseimbangan antara kemampuan menghasilkan karya dan proses membentuk diri melalui refleksi. Komsos, katanya, bukan hanya ruang produksi konten, tetapi juga “ruang produksi diri.”

Karena itu, sebuah karya komunikasi tidak dapat hanya dinilai dari kecanggihan perangkat, kualitas visual, atau banyaknya orang yang melihatnya. Di balik setiap karya perlu ada pertanyaan mengenai nilai, arah, serta dunia seperti apa yang hendak dibangun melalui komunikasi tersebut.

Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan Komsos justru terletak pada keberanian untuk tidak terjebak dalam logika produksi konten demi konten. Kemudahan teknologi memungkinkan siapa saja membuat dan menyebarkan informasi dengan cepat. Namun, Komsos Gereja dipanggil untuk menghadirkan karya yang memiliki roh, makna, dan nilai.

Dengan demikian, pertanyaan bagi seorang pegiat Komsos bukan hanya, “Apakah konten ini menarik?” melainkan juga, “Makna apa yang hendak dibuka melalui karya ini? Realitas seperti apa yang hendak ditunjukkan? Dan harapan seperti apa yang ingin ditumbuhkan?”

Imajinasi yang membuka kemungkinan

Salah satu gagasan penting dalam sesi tersebut adalah tentang imajinasi. Rm. Wawan menegaskan bahwa imajinasi bukan sekadar kemampuan berkhayal atau melarikan diri dari kenyataan. Imajinasi justru memungkinkan manusia melihat kenyataan dengan cara baru dan menemukan kemungkinan-kemungkinan yang belum terwujud.

Imajinasi juga tidak lahir dari ruang kosong. Ia dibentuk oleh pengalaman, cerita, bacaan, perjumpaan, serta berbagai kenyataan yang dialami manusia. Karena itu, seorang komunikator Gereja membutuhkan kekayaan pengalaman dan kepekaan terhadap kehidupan di sekitarnya. Kreativitas sering kali muncul bukan karena menemukan sesuatu yang sama sekali baru, melainkan karena mampu melihat hubungan antara berbagai kenyataan yang sebelumnya tampak terpisah.

Dalam proses tersebut, narasi menjadi sangat penting. Komsos tidak hanya merekam kenyataan, tetapi mengolah pengalaman manusia menjadi cerita yang mengandung makna. Fiksi dan metafora pun dapat menjadi ruang kreativitas untuk mempertemukan hal-hal yang tampaknya berjauhan sehingga melahirkan cara pandang baru.

Dari realitas menuju “ruang mimpi”

Refleksi kemudian bergerak pada gagasan tentang “ruang mimpi Gereja.” Mimpi yang dimaksud bukanlah angan-angan kosong atau pelarian dari realitas. Mimpi justru berakar pada kehidupan nyata dan memberi keberanian untuk membayangkan kemungkinan lain.

“Kalau memori berhubungan dengan masa lalu, imajinasi berhubungan dengan masa depan,” menjadi salah satu gagasan kunci dalam sesi tersebut. Dengan imajinasi, manusia tidak berhenti pada apa yang sudah ada, tetapi berani bertanya mengenai apa yang mungkin terjadi.

Dalam konteks Gereja, pertanyaan itu menjadi sangat penting: Gereja seperti apa yang hendak diwujudkan melalui karya komunikasi? Dunia seperti apa yang hendak dibangun? Kehidupan bersama seperti apa yang ingin ditawarkan kepada masyarakat?

Mimpi tersebut tetap harus berpijak pada kenyataan dan nilai-nilai etis. Imajinasi tidak dimaksudkan untuk mengabaikan persoalan yang ada, tetapi justru memberikan keberanian untuk mencari jalan keluar dan kemungkinan baru. Karena itu, komunikasi perlu memadukan sikap kritis dengan harapan: berani melihat persoalan dan membongkar kepura-puraan, tetapi tidak berhenti pada kekecewaan.

Menjadi nabi yang menghidupkan mimpi Gereja

Di sinilah muncul dimensi profetis Komsos. Seorang pelaku komunikasi Gereja dituntut mampu melihat dunia sebagaimana adanya, termasuk luka, kontradiksi, kemiskinan, ketidakadilan, keterpisahan, serta berbagai persoalan yang dialami manusia. Namun, pada saat yang sama, ia tidak kehilangan kemampuan untuk melihat apa yang masih mungkin terjadi.

Komsos dipanggil untuk memiliki “radar” yang peka terhadap mereka yang berada di pinggir kehidupan. Mereka yang menjadi korban, tersisih, dan tidak selalu memperoleh tempat dalam arus utama tidak boleh hanya dijadikan objek pemberitaan atau bahan konten. Komunikasi Gereja harus mampu mendengarkan, menemani, dan membuka jalan menuju harapan.

Dalam konteks Gereja Indonesia yang umatnya tersebar di berbagai wilayah dan pulau, komunikasi juga mempunyai peran penting untuk memperpendek jarak. Komsos dapat menjadi jembatan antara umat dan para gembala, sekaligus merajut komunitas-komunitas yang tersebar menjadi sebuah mosaik yang menunjukkan keindahan Gereja sebagai satu keluarga Allah. Teknologi, dengan demikian, bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana untuk mempertemukan manusia dan merawat persekutuan.

Dari “aku dan kamu” menjadi “kita”

Refleksi tentang mimpi Gereja akhirnya bermuara pada harapan dan komunio. Gagasan Gabriel Marcel, J’espère en toi—“aku berharap padamu”—menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami harapan sebagai sesuatu yang lahir dalam relasi.

Harapan tidak berhenti pada keinginan pribadi. Harapan menjadi nyata ketika manusia membuka diri kepada orang lain dan bersama-sama mengusahakan sesuatu. Dari “aku” dan “kamu” lahirlah “kita”; dan “kita” menjadi wujud konkret dari komunio.

Karena itu, Komsos tidak bekerja sendirian. Karya komunikasi merupakan bagian dari jejaring Gereja yang saling mendengarkan, mengandalkan, dan menguatkan. Imajinasi diperlukan untuk menyatukan berbagai realitas yang tampak tercerai-berai menjadi kesadaran bersama sebagai umat Allah.

Memiliki passion for the possible

Pada akhirnya, para peserta diajak memiliki apa yang disebut Rm. Wawan sebagai “passion for the possible”—hasrat untuk memperjuangkan apa yang mungkin. Hasrat ini bukan optimisme kosong, melainkan keberanian untuk membayangkan sekaligus mengusahakan dunia yang lebih baik dengan berakar pada sumber harapan Kristiani.

Tantangan Komsos, dengan demikian, bukan sekadar menghasilkan konten yang menarik, tetapi menghadirkan karya yang mampu memberi kehidupan. Sebuah cerita, tulisan, foto, video, atau karya komunikasi lainnya dapat menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, imajinasi, nilai, dan harapan. Ketika karya itu berjumpa dengan orang lain, ia bahkan dapat membuka kemungkinan lahirnya cara baru dalam memahami kehidupan.

Hari kedua TOT Komsos akhirnya meninggalkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar soal teknik komunikasi: mimpi Gereja seperti apa yang hendak dihidupkan melalui karya Komsos?

Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi undangan bagi para pelaku Komsos untuk kembali melihat identitas dan perutusannya. Komsos membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga iman, kepekaan, kreativitas, kemampuan mendengarkan, serta keberanian profetis. Dengan imajinasi, narasi, dan keberanian untuk memperjuangkan yang mungkin, Komsos dipanggil bukan hanya untuk menceritakan dunia, tetapi ikut membayangkan dan menghadirkan dunia yang lebih manusiawi.

Di sanalah Komsos menjalankan panggilan kenabiannya: menghidupkan mimpi Gereja, merangkai yang tercerai-berai, dan menghadirkan harapan di tengah dunia.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *