Ketua Komsos KWI: Komsos Dipanggil untuk Menunjukkan Wajah Gereja yang Baik, Benar, dan Indah
MUNTILAN, Jawa Tengah (24/8/2026) 4— Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja dipanggil bukan sekadar untuk menyampaikan informasi tentang kegiatan Gereja, tetapi untuk memperkenalkan dan menghadirkan kekayaan iman, kebaikan, kebenaran, serta keindahan Gereja kepada masyarakat luas.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, yang akrab disapa Mgr. Didik, dalam homili Misa pembukaan Training of Trainers (TOT) Komsos KWI di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan, Jawa Tengah, Senin (24/8/2026).
Misa tersebut menandai dimulainya rangkaian TOT Komsos KWI yang diikuti para Ketua Komsos Keuskupan dari seluruh Indonesia bersama para pegiat komunikasi sosial Gereja.
Di hadapan para peserta, Mgr. Didik yang juga Uskup Keuskupan Surabaya, mengajak insan Komsos melihat kembali makna perutusan komunikasi sosial Gereja di tengah perubahan dunia komunikasi yang berlangsung sangat cepat.
Dalam homilinya, Mgr. Didik merefleksikan kisah Natanael yang bertanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Menurutnya, pertanyaan tersebut dapat menjadi pertanyaan yang juga diarahkan masyarakat kepada Gereja dewasa ini: Apa yang baik dari Gereja?

Pertanyaan itu sekaligus menjadi tantangan bagi Komsos untuk menemukan, mengolah, dan mengomunikasikan berbagai kekayaan yang dimiliki Gereja.
“Kita di Komisi Komsos dan seluruh insan komunikasi sosial diutus untuk menghadirkan Gereja dan apa kekayaan iman Gereja,” ujar Mgr. Didik.
Gereja di Tengah Dunia Digital
Mgr. Didik mengatakan, dunia komunikasi telah mengalami perubahan besar. Internet dan media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk anak-anak dan generasi muda.
Dalam situasi tersebut, Gereja tidak dapat menutup diri. Kehadiran Gereja perlu menjangkau ruang-ruang baru tempat manusia mencari informasi, membangun relasi, berbagi pengalaman, dan membentuk pandangan tentang kehidupan.
Ia menggambarkan Gereja sebagai komunitas yang pintunya terbuka. Karena itu, keterbukaan tersebut perlu diwujudkan pula melalui kehadiran nyata Gereja di ruang komunikasi dan media sosial.
Menurut Mgr. Didik, pertanyaan mengenai apa yang baik dari Gereja tidak cukup dijawab melalui kata-kata. Komunikasi Gereja harus mampu memperlihatkan kekayaan iman sekaligus pengalaman konkret kehidupan umat.
Karena itu, tugas Komsos bukan sekadar memberitakan kegiatan Gereja. Komsos dipanggil untuk membantu masyarakat menemukan apa yang benar, apa yang baik, dan apa yang indah dalam kehidupan Gereja.

Dari Mengetahui hingga Mengalami
Mgr. Didik juga mengingatkan bahwa komunikasi Gereja hendaknya tidak berhenti pada membuat orang sekadar mengetahui informasi.
Komunikasi yang baik perlu membawa orang dari tahu menjadi mengerti, dari mengerti menjadi percaya, dan dari percaya menuju pengalaman. Dengan demikian, pewartaan melalui media tidak hanya membuat orang mengetahui siapa Yesus atau apa yang dilakukan Gereja, tetapi membantu mereka mengalami pesan yang disampaikan.
“Dari tahu menjadi mengerti, dari memahami maka akan ada pesan yang menyatu dan menjadikan mereka percaya,” demikian refleksi Mgr. Didik.
Karena itu, para pelaku Komsos perlu melihat dirinya sebagai orang-orang yang diutus. Apa yang ditemukan dalam pengalaman iman dan kehidupan Gereja tidak berhenti untuk dinikmati sendiri, tetapi perlu diolah dan dibagikan kepada masyarakat.
Perutusan ini menjadi semakin penting ketika masyarakat setiap hari berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar dari berbagai sumber. Gereja perlu hadir dengan narasi yang mampu memberikan makna serta menunjukkan pengalaman iman yang konkret dan autentik.
Menemukan Wajah dan Arah Komsos
Sekretaris Eksekutif Komsos KWI, Romo Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo, Pr, yang akrab disapa Romo Agung, menjelaskan bahwa rangkaian TOT yang berlangsung 25–28 Agustus 2026 mengajak para Ketua Komsos Keuskupan untuk bersama-sama mencari dan menemukan wajah serta arah karya Komsos di tengah perubahan zaman.
Ia menekankan pentingnya membangun imajinasi baru mengenai karya komunikasi sosial Gereja.
“Maka saya memberi tema kegiatan ini Imagologi Komsos,” ujar Romo Agung.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memperkaya perspektif, menemukan gagasan, serta mengolah berbagai pengalaman yang dapat dikembangkan menjadi karya komunikasi sosial yang relevan dan berdampak.
Menurut Romo Agung, TOT Komsos KWI merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi filosofis-teologis, kapasitas profesional, dan jejaring sinodal Komsos Keuskupan bersama KWI.
Pelatihan ini diharapkan menjadi momentum pembaruan visi dan praksis komunikasi Gereja, sehingga karya Komsos tidak hanya responsif terhadap perkembangan zaman, tetapi sungguh menjadi perwujudan perutusan Kristus, Sang Sabda yang hidup.
Teknologi dan Kecerdasan Buatan
Romo Agung juga menyinggung perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang semakin memengaruhi dunia komunikasi.
Menurutnya, teknologi perlu dipahami dan dimanfaatkan sebagai bagian dari perkembangan dunia komunikasi. Namun, pemanfaatan teknologi harus tetap disertai kemampuan membaca realitas dan menemukan cerita yang autentik.
Ia berharap pertemuan tersebut menghasilkan sesuatu yang dapat dibawa pulang dan dikembangkan di masing-masing keuskupan.
Romo Agung, yang berasal dari Keuskupan Agung Semarang, berharap setelah pelatihan ini muncul gagasan-gagasan visioner dan utuh tentang karya Komunikasi Sosial dengan identitas yang kuat, khas, serta sesuai dengan konteks masing-masing keuskupan.
“Juga diharapkan kapasitas peserta dalam menghasilkan karya komunikasi sosial yang berdampak luas, bahkan mendunia meningkat. Semoga peserta juga makin mengenal sekaligus berlatih memanfaatkan teknologi mutakhir untuk pelayanan Komunikasi Sosial, dan tentu juga mampu menciptakan jejaring dan budaya kolaborasi antar Komsos Keuskupan bersama KWI guna menghadirkan ekosistem komunikasi yang sinodal, profesional, dan berkesinambungan,” ujar Romo Agung.
Rangkaian TOT Komsos KWI di Muntilan ini menjadi ruang bersama bagi para pelaku komunikasi sosial Gereja untuk memperbarui visi, memperkuat kapasitas, dan membangun jejaring kolaborasi. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini diarahkan untuk menemukan kembali wajah Komsos sebagai bagian penting dari perutusan Gereja: menghadirkan wajah Gereja yang baik, benar, dan indah di tengah dunia yang terus berubah.
