Konferensi Nasional Kedua Legio Maria Senatus Maria Diangkat ke Surga-Kupang, Resmi Dibuka
Uskup Agung Kupang: Jadilah Pembawa Pengharapan dan Sukacita Injil
Kupang, 7 Agustus 2026 – Konferensi Nasional Kedua Legio Maria Senatus Maria Diangkat ke Surga-Kupang resmi dibuka melalui Perayaan Ekaristi yang berlangsung di Gereja Kristus Raja Katedral Kupang, Jumat (7/8/2026). Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, serta dihadiri para imam penasihat rohani Legio Maria, para peserta konferensi yang berasal dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur, dan sejumlah tamu undangan.
Suasana khidmat menyelimuti perayaan pembukaan yang menjadi awal dari rangkaian Konferensi Nasional Kedua Legio Maria Senatus Maria Diangkat ke Surga-Kupang yang berlangsung pada 7–9 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi kesempatan penting bagi para legioner untuk mempererat persaudaraan, memperdalam spiritualitas, serta mengevaluasi dan merumuskan arah pelayanan Legio Maria di masa mendatang.

Dalam homilinya, Mgr. Hironimus Pakaenoni mengajak seluruh anggota Legio Maria untuk kembali kepada semangat awal berdirinya Legio Maria, yakni semangat pelayanan yang dijalankan dalam kesederhanaan, kerendahan hati, dan ketulusan. Menurutnya, sejak awal Legio Maria tidak dibangun untuk mencari popularitas ataupun pengakuan, melainkan sebagai gerakan kerasulan yang setia melayani Gereja dengan meneladani Bunda Maria.
“Legio Maria lahir dari semangat pelayanan yang dijalankan dalam kesederhanaan, tanpa mengejar popularitas. Karena itu, setiap legioner dipanggil untuk belajar dari Bunda Maria, sosok yang setia mendengarkan kehendak Allah dan melaksanakannya dengan penuh kerendahan hati,” ungkap Uskup Agung Kupang.
Lebih lanjut, Mgr. Hironimus menegaskan bahwa Konferensi Nasional ini hendaknya tidak dipahami hanya sebagai agenda organisasi atau pertemuan administratif semata. Sebaliknya, konferensi ini harus menjadi sebuah kairos, yakni saat rahmat yang diberikan Tuhan bagi setiap anggota Legio Maria untuk memperbarui panggilan dan komitmen pelayanannya.

Dalam refleksinya, Uskup mengajak seluruh peserta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi kehidupan kerasulan mereka. Apakah doa-doa yang dipanjatkan sungguh melahirkan pelayanan yang tanpa pamrih? Apakah kehadiran setiap legioner benar-benar menghadirkan Kristus di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat? Dan apakah semangat evangelisasi masih menjadi napas yang menghidupi setiap karya Legio Maria?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutnya, menjadi cermin bagi setiap legioner untuk terus memperbarui diri agar pelayanan yang dijalankan tidak berhenti pada rutinitas, tetapi sungguh menjadi kesaksian iman yang hidup dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Mgr. Hironimus juga mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan kehadiran umat beriman sebagai pembawa harapan. Polarisasi sosial, konflik, sikap saling curiga, serta melemahnya semangat persaudaraan menjadi panggilan nyata bagi Legio Maria untuk menghadirkan wajah Gereja yang penuh kasih.
Karena itu, para anggota Legio Maria dipanggil untuk menjadi saksi-saksi Kristus yang membawa pengharapan, menghadirkan damai, serta membangun jembatan rekonsiliasi di tengah masyarakat. Kesaksian hidup yang sederhana, pelayanan yang tulus, dan perhatian kepada sesama menjadi bentuk nyata evangelisasi yang mampu menyentuh hati banyak orang.
Menutup homilinya, Uskup Agung Kupang berharap agar seluruh peserta tidak hanya memperoleh pengalaman berharga selama konferensi, tetapi juga pulang ke tempat pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui.
“Semoga setelah mengikuti konferensi ini, setiap legioner kembali dengan membawa api kasih Kristus. Jadilah pembawa sukacita Injil di tengah dunia dewasa ini dan teruslah menghadirkan Kristus melalui pelayanan yang rendah hati, setia, dan tanpa pamrih,” pesannya.

Konferensi Nasional Kedua Legio Maria Senatus Maria Diangkat ke Surga akan berlangsung hingga 9 Agustus 2026. Selama tiga hari, para peserta akan mengikuti berbagai agenda, mulai dari sidang-sidang konferensi, pendalaman spiritualitas, evaluasi karya kerasulan, hingga perumusan langkah-langkah strategis demi pengembangan pelayanan Legio Maria di masa mendatang.
Melalui konferensi ini diharapkan semakin tumbuh semangat persaudaraan, kesatuan, dan komitmen para legioner untuk terus menjadi rekan sekerja Gereja dalam karya evangelisasi. Dengan meneladani Bunda Maria, mereka diharapkan mampu menghadirkan kasih Kristus secara nyata melalui pelayanan yang sederhana, setia, dan penuh sukacita, sehingga Gereja semakin hidup dan menjadi tanda harapan bagi dunia.
(Tim Komsos Keuskupan Agung Kupang)
