Jumat, Mei 1, 2026
Berita

Pesan Katekese OMK St.Markus Kaniti: Iman Sejati Berbuah dalam Perbuatan

Minggu, 22 Maret 2026, pukul 20.00 WITA, bertempat di rumah saudari Lidwina Topo, Orang Muda Katolik (OMK) St. Markus Kaniti menggelar Katekese APP 2026 pertemuan keempat. Ini adalah pertemuan terakhir dari rangkaian pertemuan katekese APP yang sudah dijalankan sebelumnya.

Peserta yang hadir dalam katekese ini ada delapan orang. Meski berkurang dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, tetapi semangat yang ditunjukan oleh para OMK ini tidak surut. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat, peserta dengan antusias dan konsentrasi penuh, merenungkan tema _“Wujud Misa APP adalah Melakukan perbuatan-Perbuatan Baik Allah”._

Magdalena Hokor, fasilitator katekese ini, mengawali pertemuan dengan mengajak peserta mengingat kembali tiga tema pertemuan sebelumnya. Ia kemudian menjelaskan secara singkat gambaran tema pertemuan keempat dengan dasar inspirasi teks dari Yakobus 2:14-26 tentang Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.

Lebih lanjut, Magdalena mendeskripsikan bahwa iman seorang kristiani, hendaknya seimbang antara yang doktrin dan praktis, antara pengajaran dan penghayatan. Iman tidak sebatas teori semata, tidak berhenti pada kata-kata yang diucapkan oleh bibir, tetapi harus sampai pada praktek, diwujudnyatakan dalam perbuatan-perbuatan baik. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh seorang kristiani, adalah wujud dari misi gereja. Dan yang menjadi misionaris dalam gereja bukan hanya para imam yang tertahbis, para hidup bakti dan para orang tua saja, melainkan juga para orang muda dan anak-anak yang adalah masa depan gereja.

Pada bagian pendalaman teks, peserta antusias menggali teks terkait iman. Sebagai OMK yang sedang dalam proses menemukan jati diri, banyak dari peserta mengakui bahwa kadang mereka masih ragu dan mempertanyakan, apa itu iman? Rofina Lokang, seorang peserta yang hadir dengan jujur mengakui hal itu. “Ketika masa kecil dan anak-anak, saya percaya dan beriman saja, tanpa bertanya apa-apa. Tetapi setelah dewasa, dalam proses pergumulan hidup, saya sampai juga pada titik mempertanyakan iman saya. Iman yang sesungguhnya itu seperti apa? Iman yang sejati itu yang bagaimana?”, ungkapnya. Senada dengan hal yang sama, Hendra Bhara, mewakili peserta yang hadir juga mengajukan pertanyaan, “apa hubungan antara iman dan perbuatan?”. Di satu sisi, Vandi, seorang OMK asal Bajawa yang sedang kuliah di Kupang, mengungkapkan bahwa tema keempat ini sangat menarik untuk direnungkan oleh orang-orang muda.

Pertanyaan dan keragu-raguan yang diungkapkan peserta, kemudian dijawab oleh fasilitator dengan mendasarkan pada teks kitab suci yang direnungkan. Iman adalah keyakinan yang abstrak. Iman akan tinggal menjadi sesuatu yang semu jika tidak ada bukti konkretnya. Oleh karena itu, iman yang kita miliki harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan-perbuatan baik, kepada sesama dan alam di sekitar.

Meski minim peserta, tetapi pertemuan katekese keempat ini memberi banyak pelajaran yang penuh refleksi pada setiap peserta yang hadir, untuk melihat kembali kualitas iman yang dimiliki. Peserta diajak untuk mengevaluasi iman yang ada, apakah sudah hidup, sedang mati suri atau sudah mati karena tidak dipupuk dengan perbuatan-perbuatan baik.

Malam itu, Sabda Tuhan menyapa masing-masing peserta dengan caraNya sendiri, mengajak peserta untuk melihat ke dalam hati dan menuntut peserta untuk keluar dari diri sendiri, mewujudnyatakan iman yang dimiliki melalui perbuatan-perbuatan baik. Katekese ditutup dengan membuat perencanaan aksi nyata yang akan dilaksanakan dalam minggu sebelum pekan suci.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *