Jumat, Mei 1, 2026
Berita

Umat KUB Sto. Mikhael Malaikat Agung Gelar Katekese Minggu Ketiga

Umat KUB Santo Mikhael Malaikat Agung menggelar katekese minggu ketiga pada tanggal 13 Maret 2026 yang dihadiri oleh lebih dari 20 umat. Pertemuan ini membahas tema penting tentang Aksi Puasa Pembangunan (APP) dengan fokus pada “Menghadirkan Harapan bagi Jeritan Bumi dan Jeritan Orang-Orang Miskin“. Katekese difasilitasi oleh Silvester Tena yang membimbing umat untuk memahami makna spiritual dan sosial dari puasa pembangunan.

Aksi Puasa Pembangunan (APP) menjadi tema sentral dalam pertemuan katekese kali ini. APP bukan sekadar tradisi puasa biasa, melainkan gerakan konkret untuk merespons dua jeritan krusial saat ini: jeritan bumi yang semakin rusak akibat eksploitasi berlebihan, serta jeritan orang-orang miskin yang terpinggirkan dalam sistem ekonomi yang tidak adil. Melalui APP, umat diajak untuk berpuasa dengan kesadaran bahwa penghematan yang dilakukan akan dialokasikan untuk pembangunan yang berpihak pada kaum miskin dan pelestarian lingkungan. Dalam pengalaman hidup kita pun dapat berada sebagai orang susah dan mengalami bantuan orang lain. Di sisi lain kita juga bertindak sebagai penolong orang lain yang miskin. Kemiskinan dalam arti luas bahwa tidak hanya miskin harta, namun begitu banyak yang miskin hati, miskin tata krama atau sopan santun, miskin budaya dalam seluruh dimensi kehidupan manusia.

Katekese ini mengambil inspirasi kuat dari Injil Lukas 4:16-21 yang menceritakan ketika Yesus membacakan nubuat Yesaya di sinagoga. Yesus menyatakan bahwa “Roh Tuhan ada di atas Aku, karena Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta. Teks ini menjadi fondasi pemahaman bahwa iman Katolik harus menghadirkan harapan konkret bagi mereka yang menderita. Silvester Tena menekankan bahwa APP adalah wujud nyata dari pewartaan Injil dalam konteks hari ini, di mana umat tidak hanya berdoa tetapi juga bertindak untuk mengatasi ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan.

Pada sesi berbagi pengalaman iman, Ibu Emerensiana mengisahkan Ketika mengalami kesusahan dan dibantu oleh sesama umat dalam KUB. Terlihat rasa haru dan tertahankan untuk menyampaikan kisah pilu lantaran harus membongkar rumah dan pindah alamat, karena tanah yang ditempati diambil kembali oleh pemiliknya untuk membangun rumah.  Ibu Agnes juga bercerita Ketika delapan tahun lalu, ada yang sangat membutuhkan uang untuk anaknya sekolah ke Perguruan Tinggi. Orang yang membutuhkan menawarkan sebidang sawah di Lokasi yang jauh dari rumah tinggal saat ini. Sempat terlintas bahwa untuk apa membeli lahan yang jauh dan tidak mungkin bisa diolah. Namun atas saran baik dari anak-anak akhirnya dibeli. Tindakan belas kasih ini akhirnya dapat menolong anak yang akan melanjutkan Pendidikan tinggi, juga menolong keluarga yang dekat dengan Lokasi tanah untuk bisa mengelola sampai saat ini untuk kehidupan mereka. Akhirnya, kisah Ibu Agnes bahwa Lokasi sawah ini juga menjadi tempat refreshing di musim tanam ataupun musim panen.

Demikian juga Ibu Mery Tapun berkisah menolong keluarga yang sudah dengan cara membeli kain yang dijual dengan harga murah lantaran sangat dibutuhkan untuk biaya pengobatan rumah sakit. Namun Tindakan belas kasih ini sangat menolong keluarga yang benar-benar sangat membutuhkan, dengan melihat kegembiraan yang terpancar dari wajahnya. Bapak Yeremias juga berkisah suka merawat bumi dengan rajin menaman pohon baik sewaktu masih di Kampung Lewotobi maupun di Kupang saat ini. Kebiasaan ini merupakan warisan ajarann orang tua untuk menjaga kelestarian alam. Tindakan kasih juga dilakukan oleh Bapak Yeremias sepanjang perjalanan hidup dengan meolong keluarga untuk melancarkan proses Pendidikan di Kota Karang. Saya merasa bangga tidak bahwa meskipun  tidak dipilih menjadi Imam, namun menjadi awam yang berkarya lebih luas untuk mendidik generasi muda di Lembaga Pendidikan dan Masyarakat atau umat secara umum, kenangnya.

Dalam penutupan katekese, umat diajak untuk melihat APP sebagai panggilan bersama untuk menjadi agen perubahan. Puasa pembangunan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang mengubah sikap dan pola hidup yang lebih peduli pada sesama dan ciptaan. Dengan demikian, umat Kristus dapat menghadirkan harapan nyata di tengah berbagai jeritan yang ada di dunia ini, sesuai dengan teladan Yesus yang membawa kabar baik bagi orang-orang miskin. Kita pun mesti peduli dengan sesame yang dalam kondisi miskin pada berbagai dimensi kehidupan dan menjaga kelestarian bumi dan lingkungan sebagai rumah Bersama. Kita harus sadar bahwa alam atau lingkungan juga merupakan ciptaan Tuhan (Silvester Tena).

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *