Rabu, Oktober 7, 2026
Berita

Ziarah Gratitude Way dan Misa Mengenang Santa Faustina di Taman Ziarah Yesus Maria Mengajak Devosan Merasul dalam Belas Kasih

Ratusan devosan Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Kupang (KKI KAK) mengikuti ziarah iman Gratitude Way dan Misa mengenang Santa Faustina Kowalska, Rasul Kerahiman Ilahi, di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Senin, 5 Oktober 2026. Perjumpaan iman ini mengajak umat mensyukuri kemurahan Tuhan sekaligus mewujudkan syukur itu melalui tindakan belas kasih kepada sesama.

Bertema “Perjalanan Hati Penuh Syukur Menuju Kehendak Allah”, Gratitude Way atau Jalan Bersyukur merupakan perjalanan batin untuk mengenal diri, mengalami kasih Allah, mendengarkan Roh Kudus, dan menerima perutusan sebagai pembawa harapan. Teks ibadat menuntun para devosan melalui lima perhentian, dari kesadaran akan anugerah kehidupan menuju kesediaan menjadi rasul kerahiman masa kini.

Perhentian pertama, di depan tugu dekat pastoran, mengajak umat bersyukur atas berkat Tuhan dan menyadari bahwa nilai diri bersumber pada kasih Allah, bukan kekayaan atau prestasi. Perhentian kedua, di depan Patung Bunda Maria, membawa umat mensyukuri keberhasilan maupun kegagalan: keberhasilan diterima dengan rendah hati, sedangkan kegagalan diserahkan kepada Tuhan sebagai pengalaman yang dapat mendewasakan iman.

Perhentian ketiga mengarahkan syukur kepada keluarga, sahabat, para penjasa, dan semua manusia yang menjadi saluran kasih Tuhan. Umat diajak memeriksa apakah mereka pun telah menjadi sesama yang baik. Pada perhentian keempat, di depan Kapel St. John Paul II, syukur atas belas kasih dan kerahiman Tuhan diterjemahkan menjadi kesediaan memberi diri dan menggunakan talenta untuk melayani.

Perhentian kelima, di depan altar, meneguhkan syukur atas tugas dan panggilan hidup. Dalam keheningan, umat diajak mendengarkan Roh Kudus dan memperbarui kesediaan menjadi alat Tuhan. Alur ini menegaskan bahwa syukur tidak berakhir pada ucapan terima kasih: hati yang disentuh kasih Allah diutus membawa harapan ke dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, dan ruang digital.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Misa mengenang Santa Faustina, Rasul Kerahiman Ilahi di Kapel St. John Paul II bersama Romo Yoakim, Romo Sipri, Romo Adnan, Pater Sil, Pater Mansen, dan Pater Dor. Mengulas Injil Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25–37), Romo Sipri menegaskan bahwa seorang devosan Kerahiman Ilahi harus memiliki belas kasih yang nyata dalam tindakan.

Menjadi sesama bagi mereka yang terluka

Menanggapi pertanyaan ahli Taurat tentang siapa sesama manusia, Yesus berkisah tentang korban perampokan yang ditinggalkan setengah mati. Seorang imam dan seorang Lewi melewatinya. Justru seorang Samaria, yang dipandang asing dan direndahkan dalam relasi sosial keagamaan saat itu, mendekati korban, membalut lukanya, membawanya ke penginapan, dan menanggung biaya perawatannya.

Belas kasih orang Samaria melibatkan waktu, tenaga, dan harta. Penderitaan sesama menjadi panggilan untuk bertindak. Bagi devosan, doa dan devosi mesti membentuk kepekaan untuk menjenguk yang sakit, mendengarkan yang berduka, serta mendampingi yang tersisih. Pertanyaannya bukan hanya siapa sesamaku, tetapi apakah aku bersedia menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?

Mengasihi melampaui batas kedekatan

Dalam pesan yang disampaikan Romo Sipri, panggilan paling radikal dari Tuhan Yesus ialah mengasihi musuh dan mendoakan mereka. Ajakan ini memperluas cakrawala belas kasih. Kasih tidak boleh dibatasi hanya kepada keluarga, sahabat, anggota komunitas, atau orang yang memperlakukan kita dengan baik. Seorang devosan dipanggil membawa dalam doa juga mereka yang melukai, menolak, atau memusuhi diri kita.

Mengasihi musuh memang menuntut perjuangan batin. Namun, di situlah iman bertumbuh: ketika seseorang menolak membalas kebencian dengan kebencian, menjaga lidah dari fitnah, dan membuka jalan perdamaian. Pengampunan tidak membenarkan perbuatan yang salah atau menghapus tanggung jawab pelakunya. Belas kasih tetap dapat berjalan bersama kebenaran, keadilan, dan perlindungan terhadap mereka yang terluka.

Allah berbelas kasih tanpa batas; karena itu, kerasulan Kerahiman Ilahi tidak boleh terkurung oleh batas kelompok dan perbedaan identitas. Orang yang membutuhkan pertolongan tidak harus lebih dahulu menjadi bagian dari kelompok kita. Seperti orang Samaria, seorang devosan dipanggil melihat martabat manusia di balik perbedaan agama, asal, kedudukan, maupun riwayat perselisihan.

Salib menyatukan kasih kepada Tuhan dan sesama

Pesan belas kasih itu dapat direnungkan melalui salib Kristus. Arah vertikal mengingatkan pada relasi manusia dengan Allah: doa, iman, penyerahan diri, dan syukur. Arah horizontal mengingatkan pada relasi dengan sesama: penerimaan, pengampunan, kepedulian, dan pelayanan. Kedua arah itu bertemu dalam diri Kristus yang memberikan hidup-Nya bagi keselamatan manusia.
Bagi seorang devosan, berlutut di hadapan Tuhan mesti membentuk kesediaan mengulurkan tangan kepada sesama. Dari doa, ia menerima kekuatan untuk melayani; dalam pelayanan, ia menghayati kasih yang didoakannya. Salib mengajak umat memeriksa diri: adakah orang terluka yang selama ini kita lewati, orang kesepian yang kita abaikan, atau orang yang sulit kita ampuni?

Mengenang Santa Faustina Kowalska dengan demikian menjadi kesempatan memperbarui panggilan sebagai rasul kerahiman dalam kehidupan sehari-hari. Kerasulan itu dapat dimulai dari rumah: mendengarkan pasangan, mendampingi anak, merawat orang tua, dan menghentikan perkataan yang menyakiti. Di tengah masyarakat, panggilan yang sama diwujudkan dengan memperhatikan yang miskin, mengunjungi yang sakit, serta menghadirkan pertolongan tanpa mempermalukan penerimanya.

Lima perhentian Gratitude Way mengantar umat mensyukuri kehidupan; Ekaristi meneguhkan mereka untuk membagikan kasih yang telah diterima. Ziarah iman itu menemukan kelanjutannya dalam keputusan sehari-hari untuk berbelas kasih. Dari Oebelo, panggilan bagi para devosan menjadi jelas: biarlah syukur kepada Tuhan menjelma menjadi tangan yang menolong, hati yang mengampuni, dan kehadiran yang memulihkan martabat sesama.

Pada akhir kegiatan, Pater Silverius, CMF, penanggung jawab Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, menyampaikan rasa syukur atas kunjungan ziarah dan Misa bersama KKI KAK yang kerap mengadakan kegiatan di tempat tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya senantiasa menantikan kehadiran Romo Sipri Senda beserta seluruh komunitas yang dibimbingnya. Sambutan ini mengungkapkan keterbukaan Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sebagai tempat umat berdoa, bersyukur, dan bertumbuh bersama dalam iman (ST).

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *