Senin, September 28, 2026
Berita

Katekese BKSN KUB Sto. Mikhael Malaikat Agung: Merawat Persaudaraan dalam Iman

Kupang, (26/09/2026) — KUB Sto. Mikhael Malaikat Agung, Wilayah Oebobo B, melaksanakan pertemuan ketiga katekese dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Pertemuan yang mengangkat tema “Yesus Guru yang Mengajar tentang Persaudaraan dalam Iman” ini berpusat pada perikop Injil Matius 18:15–20 dan dipimpin oleh Romo Sipri Senda, ahli Kitab Suci sekaligus Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang.

Dalam katekese tersebut, umat diajak mendalami cara Yesus mengajarkan umat-Nya untuk menjaga dan memulihkan persaudaraan, terutama ketika terjadi kesalahan, konflik, atau perbedaan dalam kehidupan bersama.

Berdasarkan Injil Matius 18:15–20, Yesus menunjukkan tahapan dalam menegur sesama. Pertama, teguran disampaikan secara pribadi antara kedua pihak. Jika teguran tersebut belum didengarkan, seseorang dapat mengajak satu atau dua orang lain sebagai saksi. Apabila persoalan masih belum terselesaikan, barulah persoalan tersebut disampaikan kepada jemaat.

Romo Sipri menegaskan bahwa teguran dalam semangat Injil bukanlah tindakan untuk mempermalukan, menghakimi, atau menjatuhkan seseorang. Teguran justru merupakan bentuk kepedulian yang bertujuan membawa sesama kembali kepada kebaikan.

“Menegur bukan berarti membenci. Teguran yang benar lahir dari kasih dan bertujuan memulihkan persaudaraan,” demikian inti refleksi yang dibagikan dalam pertemuan tersebut.

Umat kemudian diajak merefleksikan pengalaman konkret dalam kehidupan sehari-hari melalui pertanyaan pemantik mengenai bagaimana menegur dan menasihati sesama, bagaimana menghadapi perselisihan, serta bagaimana belajar mengampuni.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Ibu Agnes mengisahkan perannya sebagai penengah di antara delapan bersaudara. Ketika terjadi perbedaan pendapat, ia berusaha memberikan nasihat dan teguran agar persoalan tidak berkembang menjadi perpecahan. Sikap tersebut turut membantu menjaga kerukunan persaudaraan mereka hingga saat ini.

Pengalaman lain dibagikan oleh Ibu Paulina, yang menceritakan pengalamannya menegur dengan tegas anggota keluarganya yang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Kristiani. Meskipun teguran tersebut tidak mudah, pada akhirnya anggota keluarganya bersedia menerima nasihat dan memperbaiki sikapnya.

Sementara itu, Bapak Yeremias berbagi pengalaman mengenai perjuangannya mengampuni seseorang yang pernah mencemoohnya. Ia memilih untuk tetap menyapa dan membangun komunikasi secara rutin. Baginya, mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memilih untuk tidak membiarkan luka menjadi penghalang bagi persaudaraan.

Berbeda dengan pengalaman tersebut, Ibu Wati mengungkapkan bahwa teguran yang disampaikannya kepada seorang saudara justru mendapat respons berupa kemarahan. Dalam situasi itu, ia memilih menyerahkan pergumulannya kepada kehendak dan penyertaan Tuhan.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menjaga persaudaraan tidak selalu mudah. Teguran dapat ditolak, nasihat dapat disalahpahami, dan usaha untuk berdamai terkadang membutuhkan waktu yang panjang. Namun, umat diajak untuk tidak berhenti berbuat baik dan tetap membuka ruang bagi pertobatan serta pemulihan relasi.

Pertemuan ketiga ini dihadiri oleh tujuh orang umat, jumlah yang lebih sedikit dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Sebagian umat berhalangan hadir karena mengikuti berbagai kegiatan dan acara keluarga, baik dalam suasana suka maupun duka.

Meski dihadiri oleh sedikit peserta, suasana kebersamaan dan refleksi iman tetap terasa. Justru dalam kesederhanaan pertemuan tersebut, Sabda Yesus dalam Matius 18:20 menjadi peneguhan: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Sabda tersebut mengingatkan bahwa makna sebuah persekutuan iman tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya orang yang hadir, tetapi oleh kehadiran Kristus yang menyatukan dan menghidupkan persaudaraan.

Melalui katekese BKSN ini, umat KUB Sto. Mikhael Malaikat Agung, Wilayah Oebobo B, kembali diajak untuk merawat persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Persaudaraan itu diwujudkan melalui keberanian menegur dengan kasih, kerendahan hati untuk menerima nasihat, kesediaan mengampuni, serta ketekunan untuk tetap berbuat baik ketika usaha mendamaikan sesama belum membuahkan hasil.

Pada akhirnya, menjadi saudara dalam iman berarti belajar untuk tidak sekadar hidup bersama, tetapi juga berani berjalan bersama dalam kasih, pengampunan, dan kepercayaan bahwa Tuhan senantiasa hadir di tengah umat-Nya.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *