Mengubah Stres Menjadi Tantangan Iman: OMK Penfui dan Oesapa Belajar Merawat Kesehatan Mental
Isu kesehatan mental saat ini menjadi salah satu permasalahan yang banyak dihadapi oleh anak muda, namun belum begitu diprioritaskan. Oleh sebagian orang, isu ini masih dianggap sebagai hal yang tabu, sementara sebagian lainnya masih melihatnya dengan stigma sosial yang melekat. Menjawab keprihatinan tersebut, OMK Wilayah VI Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui berkolaborasi dengan OMK Kuasi Paroki St. Petrus dan Paulus Oesapa menggelar sesi diskusi interaktif bertajuk “Mengelola Stres dan Menikmati Hidup: Menjadi Orang Muda yang Tumbuh, Tangguh, dan Bahagia”.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 25 Agustus 2026, di Aula SMPK Adisucipto Penfui, Kupang, ini diikuti oleh 29 peserta dengan latar belakang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga mereka yang sudah memasuki dunia kerja. Diskusi selama empat jam ini dipandu oleh Paul Suban, Ketua Wilayah VI Pusat Paroki sekaligus inisiator kegiatan, dengan menghadirkan narasumber Andriyani Emilia Lay, M.A., Psikolog, dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Nusa Cendana.
Rangkaian acara diawali dengan sesi perkenalan. Para peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling berbagi (sharing session) mengenai sumber stres yang sedang dihadapi, gejala yang dirasakan, hingga upaya penanganannya. Melalui dinamika ini, orang muda diajak masuk ke ruang refleksi diri yang aman tanpa dihakimi.
Di akhir sesi, peserta dibekali teknik praktis untuk membangun ketangguhan diri dan mengelola stres, yang kemudian dipraktikkan secara langsung. Dari ruang diskusi tersebut, terungkap kenyataan bahwa orang muda kerap memikul berbagai beban, seperti tuntutan akademis, tekanan tenggat waktu tugas dan pekerjaan, ekspektasi keluarga, tekanan finansial, rasa tidak aman terhadap diri sendiri, hingga keprihatinan dan kecemasan akan dinamika sosial-politik negara saat ini.
Berbagai tantangan tersebut dapat menjadi pemicu yang membuat orang muda jatuh ke titik terendah dalam hidup. Walau demikian, orang muda diharapkan tidak pernah meragukan anugerah yang telah diterima. Pikiran, tubuh, dan jiwa yang dirangkai dalam satu kesatuan—saya, kamu, kita semua—merupakan jalinan jejaring sumber dukungan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa stres yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi racun. Namun, manusia sebenarnya memiliki “antidotum” dalam dirinya sendiri. Dalam pesan penutupnya, Andriyani mengingatkan bahwa stres adalah bagian dari kehidupan yang perlu dikelola dan bahwa kita dapat mengelola beban stres tersebut tanpa mengorbankan kesejahteraan mental.
Be blessed to be stressed—bersyukurlah atas tekanan yang dihadapi karena hambatan hidup dapat diubah menjadi tantangan positif. Semua itu menjadi panggilan untuk bertumbuh dalam iman, tangguh dalam pengharapan, dan bahagia dalam kasih.
Sesi diskusi ini menjadi titik pijak baru bagi Orang Muda Katolik yang adalah penerus tongkat estafet bangsa dan masa depan Gereja untuk melangkah ke tengah dinamika dunia. OMK diajak untuk saling menopang dan menjadi teman seperjalanan seperti Simon dari Kirene, peduli terhadap sesama saat memikul salib kehidupan, seraya menegarkan diri untuk tidak berlarut-larut meratapi masa lalu maupun mengkhawatirkan masa depan.
Orang muda dipanggil untuk merayakan kehidupan dengan hidup di masa kini, menjadi garam dan terang dunia, sembari mempersiapkan keabadian yang menanti dengan tetap berserah penuh kepada Sang Cinta itu sendiri.
