Selasa, September 1, 2026
Berita

Pegiat Komsos Harus Kritis dan Merawat Lingkungan Komunikasi di Era AI

MUNTILAN, JAWA TENGAH – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menghadirkan berbagai kemungkinan baru dalam dunia komunikasi. Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, menghasilkan beragam gagasan, hingga membaca data secara lebih mudah. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, para pegiat Komunikasi Sosial (Komsos) dituntut untuk tetap kritis, bertanggung jawab, dan mampu merawat ruang komunikasi sebagai lingkungan hidup bersama.

Pesan tersebut disampaikan Romo Dominicus Donny Widiarso, Pr, Ketua Tim IT Keuskupan Agung Semarang, dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) bagi para Ketua Komsos dan pegiat Komsos Keuskupan yang berlangsung di Aula Pelican, Pusat Pastoral Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah, Rabu (26/08/2026).

Dalam sesi tersebut, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada berbagai kemungkinan pemanfaatan AI dalam karya komunikasi, tetapi juga diajak melakukan refleksi kritis mengenai dampak teknologi terhadap manusia, kebenaran, relasi sosial, dan budaya komunikasi.

Merawat Lingkungan Komunikasi

Romo Donny mengajak peserta memandang komunikasi sebagai sebuah lingkungan yang perlu dirawat. Sejak dahulu manusia telah hidup dalam berbagai bentuk lingkungan komunikasi, mulai dari kentongan, telepon, hingga percakapan langsung.

Perkembangan teknologi kemudian memperluas lingkungan tersebut ke ruang digital. Media sosial, berbagai platform komunikasi, dan kini AI telah membentuk cara baru manusia berinteraksi, mendapatkan informasi, serta membangun relasi.

“Seperti lingkungan hidup yang harus kita rawat dan jaga, lingkungan komunikasi pun perlu kita perhatikan,” ujar Romo Donny.

Menurutnya, lingkungan komunikasi tidak sekadar menjadi tempat bertukar informasi. Di dalamnya, kebenaran dapat tumbuh dan berkembang, tetapi sekaligus dapat pula dikaburkan oleh kepentingan, manipulasi, atau informasi yang tidak terverifikasi.

Karena itu, para pegiat Komsos memiliki tanggung jawab untuk ikut menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat, terpercaya, dan manusiawi.

Kebenaran Bukan Monopoli

Salah satu hal yang mendapat perhatian dalam pemaparan tersebut adalah pentingnya menempatkan kebenaran sebagai kebaikan bersama.

Di tengah derasnya arus informasi, teknologi tidak semestinya digunakan untuk memonopoli, menyembunyikan, atau memanipulasi kebenaran demi kepentingan tertentu.

“Penggunaan teknologi tidak seharusnya diarahkan untuk memonopoli atau menutupi kebenaran. Tantangannya justru adalah bagaimana teknologi digunakan dengan tetap berpijak pada prinsip bahwa kebenaran harus menjadi milik bersama,” kata Romo Donny.

Prinsip tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan dalam kebijakan maupun praktik komunikasi sehari-hari. Transparansi, tanggung jawab, dan verifikasi menjadi semakin penting karena teknologi memungkinkan sebuah informasi diproduksi dan disebarluaskan dalam waktu yang sangat singkat.

Karena itu, pegiat Komsos diajak untuk tidak terjebak dalam budaya komunikasi yang hanya mengejar kecepatan.

“Jangan sampai kita lebih mengutamakan reaksi daripada verifikasi,” tegasnya.

Sikap kritis dan tidak reaktif menjadi modal penting bagi Komsos untuk menghadapi berbagai persoalan di ruang digital. Setiap informasi perlu diperiksa sebelum diteruskan, sementara setiap respons perlu dipertimbangkan berdasarkan konteks dan dampaknya.

 

Tidak Cukup Hanya Mengatakan “Jangan”

Perkembangan AI juga membawa tantangan bagi keluarga dan lembaga pendidikan. Anak-anak dan generasi muda hidup dalam lingkungan digital yang tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi tersebut, pendekatan berupa larangan semata tidak cukup.

“Pendampingan dari orang tua dan keluarga sangat penting. Kita tidak bisa hanya mengatakan ‘jangan’, tetapi perlu membantu anak-anak dan generasi muda untuk memahami bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” katanya.

Pendidikan digital, dengan demikian, bukan hanya soal kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan aplikasi. Lebih jauh, pendidikan digital menyangkut kemampuan berpikir kritis, menilai informasi, memahami dampak teknologi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Bertanya Sebelum Menggunakan AI

Dalam menggunakan AI, Romo Donny mengajak peserta untuk tidak langsung bertanya, “Apa yang bisa dilakukan AI?”, tetapi terlebih dahulu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk siapa teknologi itu digunakan dan apa dampaknya bagi manusia?

Salah satu pertanyaan penting yang diajukannya adalah:

“Kita perlu bertanya, siapa manusia di ujung karya komunikasi kita?”

Pertanyaan tersebut mengajak pegiat Komsos melihat audiens bukan sekadar sebagai angka, data, followers, atau penonton anonim, melainkan sebagai manusia yang memiliki pengalaman, kebutuhan, harapan, dan martabat.

Pertanyaan lain juga perlu diajukan: Apakah informasi yang dihasilkan benar? Siapa yang bertanggung jawab atas kebenarannya? Apakah penggunaan AI dalam sebuah karya perlu disampaikan secara terbuka? Bagaimana data digunakan dan dikelola? Serta, apa dampak karya tersebut bagi mereka yang menerimanya?

Romo Donny juga mengajak peserta melihat lebih jauh keberhasilan sebuah konten.

“Kalau karya kita menjangkau semakin banyak orang, apakah itu membuat orang semakin mengalami perjumpaan atau justru semakin sendirian?” tanyanya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari proses discernment dalam menggunakan teknologi. Dengan demikian, teknologi tidak digunakan hanya karena tersedia atau sedang menjadi tren, tetapi karena memang dipandang membawa manfaat dan kebaikan.

AI sebagai Asisten, Bukan Pengambil Keputusan

Meski menekankan pentingnya sikap kritis, Romo Donny tidak menempatkan AI sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu yang berguna dalam karya Komsos.

AI dapat membantu menyusun pilar konten, membuat kalender konten, mengembangkan gagasan, serta menyesuaikan perencanaan komunikasi dengan berbagai momentum. Teknologi juga dapat membantu pegiat Komsos mengembangkan konten untuk berbagai platform media sosial.

Dalam proses kreatif, misalnya, AI dapat digunakan untuk membantu menyusun gagasan berdasarkan pendekatan AIDA (attention, interest, desire, action), mulai dari menemukan ide, membuat pembuka konten, menyusun caption dan hashtag, hingga memberikan gambaran mengenai kebutuhan visual maupun audio.

Namun, seluruh kemampuan tersebut tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu.

“AI bisa membantu kita menghasilkan banyak kemungkinan, tetapi tetap manusia yang harus melakukan penilaian dan menentukan pilihan,” katanya.

Dengan kata lain, semakin besar kemampuan teknologi, semakin penting pula kemampuan manusia untuk melakukan discernment. AI dapat memberikan banyak pilihan, tetapi manusia tetap bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil dan karya yang dihasilkan.

Data Membantu Membaca, Manusia Tetap Menilai

Pemanfaatan AI juga dapat dikembangkan untuk membaca dan menganalisis data media sosial.

Data dari fitur insight berbagai platform dapat membantu pegiat Komsos melihat perkembangan konten, mulai dari jumlah tayangan, respons audiens, tren, waktu publikasi, hingga pola keterlibatan pengguna.

AI kemudian dapat membantu membaca kecenderungan tersebut dan memberikan berbagai kemungkinan rekomendasi untuk konten berikutnya. Misalnya, bagaimana menggunakan call to action, menata informasi dalam akun, atau menguji waktu publikasi yang berbeda.

Namun, data tidak boleh menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

“Teknologi bisa membantu kita membaca data, tetapi manusia tetap harus menentukan langkah dan menilai apakah langkah itu sungguh membawa kebaikan,” ujarnya.

Konteks tetap menjadi bagian penting. Angka dapat menunjukkan apa yang terjadi, tetapi manusia perlu memahami mengapa hal tersebut terjadi dan apakah hasil yang diperoleh sungguh sejalan dengan tujuan karya komunikasi Gereja.

Belajar Membuat Karya dari Perencanaan

Sesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan kegiatan praktik. Para peserta dibagi dalam kelompok dan diajak menghasilkan karya komunikasi dengan bentuk yang beragam, baik gambar, cerita, rekaman, maupun produk kreatif lainnya.

Romo Donny menekankan bahwa karya komunikasi yang baik tidak seharusnya dimulai hanya dari keinginan membuat sebuah produk. Prosesnya perlu diawali dengan perencanaan: menentukan tujuan, mengenali manusia yang menjadi sasaran komunikasi, memilih pesan, mempertimbangkan media, dan memikirkan dampaknya.

Dalam proses kreatif tersebut, peserta juga diajak menghubungkan karya mereka dengan lima tema manusiawi, yakni penderitaan, harapan, pengampunan, keberanian, dan perjumpaan.

Kelima tema tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk melihat bahwa komunikasi Gereja tidak berhenti pada penyampaian informasi. Di balik setiap pesan terdapat manusia dan pengalaman hidup yang perlu dihargai.

Merawat Ruang Komunikasi Bersama

Kegiatan hari ketiga ToT Komsos 2026 akhirnya menegaskan kembali bahwa tantangan Komsos di era AI bukan sekadar persoalan kemampuan menguasai teknologi.

Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Para pegiat Komsos dipanggil untuk menjadi bagian dari ekosistem komunikasi yang sehat: tidak mudah bereaksi tanpa verifikasi, tidak menjadikan teknologi sebagai pengganti penilaian manusia, serta tidak mengukur keberhasilan komunikasi hanya dari jumlah jangkauan dan interaksi.

Di tengah teknologi yang semakin canggih, Komsos justru memiliki tugas untuk menjaga agar ruang komunikasi tetap menjadi tempat di mana kebenaran dapat dipercaya, manusia dihargai, dan perjumpaan dapat terjadi.

Sebab, teknologi pada akhirnya bukan tujuan. Ia adalah sarana. Dan kualitas komunikasi tetap ditentukan oleh bagaimana manusia memilih menggunakan sarana tersebut demi kebaikan bersama.

Semangat yang mengemuka dalam sesi tersebut menjadi pengingat bagi para pegiat Komsos: teknologi semestinya membantu manusia semakin menjadi manusia dan semakin mampu berjumpa dengan sesama.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *