Dari Protestan Menjadi Fasilitator Katekese: Kisah Ibu Deni Nenohai di Kapela Nunab
Nunab, Oeekam – Sabtu sore (6/9), Rumah sederhana milik Bapak Arkanjo Soares da Silva di Kapela Nunab tampak lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi plastik tersusun rapi, Kitab Suci di tangan umat, dan wajah penuh harapan menyambut pertemuan pertama Katekese Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN).
Tema katekese kali ini, “Allah Sumber Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri”, berangkat dari Kitab Zakaria 1:1-6. Firman yang menggema, “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” (Za. 1:3), menjadi pengingat akan kasih setia Allah yang tak pernah meninggalkan umat-Nya. Namun, yang membuat pertemuan ini berbeda bukan hanya pesannya, melainkan sosok yang memandu jalannya katekese: seorang ibu rumah tangga bernama ibu Deni Nenohai.

Perjalanan iman ibu Deni tidaklah biasa. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan. Namun, cintanya pada Bonifasius Isu, yang kini menjadi suaminya, membawanya masuk ke dalam Gereja Katolik. Sejak menerima iman Katolik sepuluh tahun silam, ibu Deni tidak sekadar hadir di gereja pada hari Minggu. Ia tumbuh menjadi pribadi yang aktif, terlibat dalam koor KUB, menjadi pendamping anak-anak SEKAMI, hingga dipercaya mengurus berbagai kegiatan umat.
“Meski sibuk bekerja di kantor desa dan mengurus tiga anak kecil, saya selalu merasa damai kalau bisa melayani di gereja,” ungkap ibu Deni suatu ketika.
Dan tahun ini, tanggung jawab baru datang kepadanya: untuk pertama kalinya ia ditunjuk menjadi fasilitator katekese. Dengan buku panduan di tangan, ia berdiri di depan sekitar 17 umat dewasa dan sejumlah anak-anak yang hadir sore itu. Awalnya ia tampak canggung, tetapi senyum hangatnya segera mencairkan suasana.
Suasana katekese berjalan penuh keakraban. Seorang bapak berani berbagi pengalamannya: betapa berbeda rasanya ketika hidup jauh dari Tuhan dibandingkan saat kembali mendekat kepada-Nya. Umat lainnya mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah menemukan cermin dari perjalanan iman masing-masing.

Bagi ibu Deni, pengalaman ini meninggalkan kesan yang mendalam. “Masih jauh dari sempurna karena saya tidak sempat ikut sosialisasi bahan di paroki. Tapi Puji Tuhan, dengan berpatokan pada buku panduan, saya bisa memandu umat merenungkan Sabda Tuhan. Saya sangat bersyukur,” tuturnya dengan mata berbinar.
Pertemuan malam itu ditutup dengan doa dan pesan penuh harapan: agar semakin banyak umat berani berbagi pengalaman iman pada pertemuan-pertemuan berikut. Katekese perdana yang dipandu ibu Deni tidak hanya menjadi ruang belajar bersama, tetapi juga sebuah tanda pembaruan – bahwa siapa pun yang mau membuka diri pada panggilan Tuhan, dapat menjadi alat kasih-Nya bagi sesama. (Magdalena Hokor)
