Jumat, April 17, 2026
Berita

Tenggelam dalam Samudra Kerahiman-Mu, Bangkit dalam Cahaya Paskah

Rekoleksi dan Pengakuan Komunitas Kerasulan Ilahi Keuskupan Agung Kupang

Pada suasana khidmat masa Prapaskah, Komunitas Kerasulan Ilahi Keuskupan Agung Kupang (K3I) KAK menggelar rekoleksi spiritual yang diikuti oleh lebih dari 40 orang devosan. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari persiapan menyambut Paskah, dengan tujuan memperdalam pengalaman akan kerahiman ilahi dan membangkitkan semangat pertobatan.

Rekoleksi diberikan oleh RD. Dr. Okto Naif dengan tema yang penuh makna: “Tenggelam dalam Samudra Kerahiman-Mu, Bangkit dalam Cahaya Paskah”. Dalam pembahasannya, RD. Okto mengajak para peserta untuk merenungkan betapa luas dan dalamnya kasih kerahiman Tuhan, seperti samudra yang tak bertepi, yang siap menampung dosa dan kelemahan setiap manusia. Namun, kerahiman bukan hanya soal pengampunan, melainkan juga ajakan untuk bangkit: hidup baru dalam terang Kristus yang bangkit.

“Kita diajak bukan hanya untuk bertobat, tetapi untuk bertransformasi. Tenggelam dalam rahmat, agar pada akhirnya kita mampu bangkit dan bersinar dengan cahaya Paskah,” demikian disampaikan RD. Okto dalam pesan rekoleksi.

Para devosan diajak untuk menyadari kebutuhan akan Kerahiman Allah. Kitab Suci mengingatkan: “Tuhan dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mmz. 34:19). Kesadaran ini bukanlah sikap pesimis terhadap diri, melainkan kejujuran spiritual yang membuka ruang bagi Rahmat. Kesadaran akan dosa dan keterbatasan diri bukanlah akhir, melainkan awal dari pembaruan. Kerendahan hati untuk mengakui dosa membukan hati bagi pengalaman pengampunan. Secara psiko-spiritual bahwa pengakuan ini juga membawa penyembuhan batih. Banyak orang memikul rasa bersalah atau luka batin yang tersembunyi. Ketika seseorang berani datang kepada Tuhan dengan kejujuran, ia menemukan bahwa Allah tidak pertama-tama menghakimi, melainkan menerima dan memulihkan.

Devosi kepada Kerahiman Ilahi mengundang setiap hari yang beriman untuk menapaki jalan Rohani yang sederhana namun Mendalam, jalan yang ringkas dalam ABC Kerahiman: suatu ziarah batin menuju hati Allah yang penuh belas kasih.

A – Ask for His Mercy (Mohon Belas Kasih Allah)

Sebab Tuhan berkenan agar manusia datang kepadaNya tanpa jemu, seperti anak yang pulang kepada Bapanya. Dalam doa yang ta putus-putusnya, kita diajak merendahkan diri di hadapan tahta rahmatNya, menyesali dosa-dosa kita, dan memohon agar Samudra kerahimanNya dicurahkan ke atas  jiwa kita. Dengan hati yang hancur dan penuh harap berseru: “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini”. Dan Tuhan, yang kaya akan belas kasih, tidak menolak hati yang remuk redam.

B – Be Merciful (Berbelas Kasih Kepada Sesama)

Belas kasih yang kita terima dari Tuhan tidak dimaksudkan berhenti pada diri kita sendiri. Ia menghendaki agar Rahmat itu mengalir bagaikan Sungai kehidupan, mengairi ladang-ladang hati manusia. Maka kita dipanggil untuk menjadi tanda kerahimanNya, mengampuni sebagaimana kita telah diampuni, mengasihi sebagaimana kita telah dikasihi. Seperti doa yang diajarkan Sang Guru Ilahi. “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”.  Dengan demikian, hidup kita menjadi cermin yang memantulkan Cahaya kasih Allah kepada dunia.

C – Completely Trust (Percaya Penuh KepadaNya)

Tuhan juga menghendaki agar kita hidup dalam kepercayaan yang total kepadaNya. Sebab rakmat kerahimanNya mengalir deras ke dalam jiwa yang bersandar sepenuhnya pada kasihNya. Semakin besra kepercayaan kita semakin luas pintu terbuka bagi kita. Maka dari kedalaman jiwa kita mengangkat doa yang sederhana namun penuh iman: “Ya Tuhan, pada-Mu aku percaya. KepadaMu aku berserah dan menyembah”. Kita percaya bahwa kerahiman Tuhan lebih luas daripada segala dosa manusia.

Para devosan menantikan paskah yang bukan hanya sekedar perayaan liturgis. Namun Paskah adalah perjalanan dari hati yang terluka menuju hati yang dipulihkan. Semoga Roh Kudus membuka mata hati kita untuk melihat keindahan kasih Tuhan yang memulihkan. Semoga kita tidak hanya mengalami kerahiman sebagai pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi saluran rahmat bagi orang lain. Kiranya Paskah menjadi transformasi hidup yang nyata: hati yang diperdamaikan, luka yang disembuhkan, dan relasi yang diperbarui oleh pengampunan.

Saint Faustina Kowalska menulis kata-kata Yesus yang sangat terkenal: “Umat manusia tidak akan menemukan kedamaian sampai mereka berpaling dengan penuh kepercayaan kepada kerahimanKu”

Sebagai bagian integral dari rekoleksi ini, Komunitas K3I KAK menyelenggarakan pengakuan suci yang dilayani oleh tiga imam: RD. Okto, RD. Yokaim, dan RD. Rio. Para devosan dengan antusias mengikuti sakramen pengakuan ini sebagai wujud konkret dari pertobatan yang telah mereka renungkan selama rekoleksi.

Pengakuan suci menjadi momen penting di mana setiap devosan dapat merasakan pengampunan Allah secara nyata dan memperoleh kekuatan untuk bangkit dari dosa dan kelemahan. Tiga imam yang melayani pengakuan ini dengan sabar mendengarkan pengakuan para devosan dan memberikan nasihat serta penitensi yang mendalam.

Salah satu devosan yang mengikuti rekoleksi ini menyampaikan kesannya: “Rekoleksi ini membuka mata hati saya untuk mengalami kerahiman Allah yang begitu luas. Saya merasa dibangkitkan dari kegelapan dosa dan diberi harapan baru untuk menjalani hidup sesuai teladan Kristus.”

Rekoleksi dan pengakuan ini diharapkan dapat menjadi bekal spiritual bagi para devosan K3I KAK dalam menghadapi pekan-pekan Prapaskah hingga mencapai puncaknya dalam perayaan Paskah. Semangat “tenggelam dalam kerahiman dan bangkit dalam cahaya Paskah” diyakini akan terus membekali komunitas ini dalam menghayati iman dan karya kerasulan mereka sehari-hari.

Dengan rekoleksi ini, Komunitas K3I KAK menegaskan komitmennya untuk terus memperdalam iman dan mengalami pertobatan sejati sebagai persiapan menyambut misteri Kebangkitan Kristus.

Kegiatan diakhiri dengan doa syukur dan harapan agar semangat kerahiman ilahi terus menyala dalam hati setiap anggota komunitas, tidak hanya selama masa Prapaskah, tetapi dalam setiap langkah hidup (Silvester Tena).

 

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *