Teknologi Boleh Berubah, Komsos Dipanggil Tetap Mengutamakan Perjumpaan
Muntilan, Jawa Tengah – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, terutama hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), membawa peluang sekaligus tantangan baru bagi karya Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja. Namun, di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, satu hal tidak boleh kehilangan tempatnya: perjumpaan antarmanusia.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok refleksi dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Para Ketua Komsos dan Pegiat Komsos Keuskupan yang berlangsung di Aula Pelican, Pusat Pastoral Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah, Rabu (26/08/2026).
Materi pada hari ketiga ToT ini disampaikan oleh Rektor Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang periode 2025–2029, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, Ph.D., yang akrab disapa Mas Aji. Para peserta diajak melihat perkembangan teknologi secara lebih kritis sekaligus melakukan discernment untuk menentukan teknologi mana yang sungguh bermanfaat bagi karya Komsos dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan manusia.
Tidak Sekadar Terpesona oleh Teknologi
Mas Aji mengingatkan bahwa perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Teknologi yang hari ini dianggap mutakhir dapat dalam waktu singkat menjadi sesuatu yang biasa atau bahkan ditinggalkan.
Karena itu, para pegiat Komsos tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu memahami bagaimana teknologi bekerja, ke mana perkembangannya bergerak, serta apa konsekuensi yang mungkin ditimbulkannya.
Pemahaman tersebut penting agar penggunaan teknologi tidak berhenti pada kekaguman terhadap kecanggihannya. Sebaliknya, teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana yang dipilih secara sadar untuk mendukung karya komunikasi Gereja.
Di sinilah kemampuan melakukan discernment menjadi penting. Para pegiat Komsos perlu bertanya: teknologi apa yang sungguh dibutuhkan, untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan, siapa yang dilayani, dan apa dampaknya terhadap manusia serta kehidupan bersama.

“Apakah Komunikasi Kita Masih Mengutamakan Perjumpaan?”
Di tengah pembicaraan mengenai teknologi, Mas Aji membawa peserta pada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: “Apakah komunikasi kita masih mengutamakan perjumpaan?”
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu ukuran penting dalam melihat perkembangan karya Komsos.
Teknologi memang memungkinkan pesan menjangkau lebih banyak orang dalam waktu yang jauh lebih cepat. Kamera semakin canggih, proses produksi semakin mudah, dan AI dapat membantu menghasilkan berbagai bentuk konten. Namun, semua kecanggihan itu tidak boleh membuat komunikasi kehilangan wajah manusianya.
Teknologi semestinya membantu manusia membangun relasi, bukan justru menjauhkan manusia dari sesamanya. Ruang digital dapat menjadi sarana untuk memperluas perjumpaan, tetapi tidak seharusnya menggantikan nilai kehadiran manusia.
AI Memiliki Pengetahuan, tetapi Tidak Otomatis Memiliki Kebijaksanaan
Mas Aji juga mengajak peserta melihat perkembangan AI secara kritis. AI memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah data, mengenali pola, menghasilkan informasi, bahkan membantu berbagai pekerjaan komunikasi.
Namun, kecanggihan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa AI memiliki kebijaksanaan.
“AI ini, sekali lagi, dia tidak punya wisdom. Dia punya pengetahuan, oke, tapi belum tentu punya wisdom,” katanya.
Menurut Mas Aji, AI bekerja berdasarkan data dan pola yang dipelajarinya. Karena itu, manusia tetap memiliki tanggung jawab utama dalam mengambil keputusan, terutama ketika keputusan tersebut menyangkut nilai, etika, tanggung jawab, dan kehidupan manusia.
AI tidak secara otomatis memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Sistem tersebut mengenali pola berdasarkan data yang tersedia. Karena itu, manusia tetap harus hadir sebagai pribadi yang mampu menilai, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Bagi karya Komsos, hal ini menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat. Kebijaksanaan dalam menggunakan alat tersebut tetap berada di tangan manusia.

“Yang Tidak Boleh Diganti adalah Manusia yang Hadir”
Perkembangan teknologi memberikan banyak peluang bagi Komsos. Berbagai perangkat digital dan teknologi AI dapat membantu proses produksi, memperluas jangkauan informasi, meningkatkan efisiensi kerja, dan memungkinkan pesan Gereja menjangkau khalayak yang semakin beragam.
Namun, ada sesuatu yang menurut Mas Aji tidak boleh hilang dari karya Komsos: kehadiran manusia.
“Yang tidak boleh diganti adalah adanya seorang manusia yang hadir, memegang kamera, hafal semua orang, menyapa,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Komsos bukan hanya tentang menghasilkan konten. Komsos juga tentang mengenal manusia yang dilayani, hadir di tengah komunitas, menyapa, mendengarkan, dan membangun relasi.
Teknologi boleh membantu mengambil gambar, mengolah suara, menyunting video, menulis teks, atau memperluas distribusi pesan. Namun, sapaan personal, perhatian, empati, dan kehadiran nyata tetap memiliki nilai yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh mesin.
Bukan Sekadar Views dan Likes
Dalam perkembangan media digital, keberhasilan komunikasi sering kali diukur melalui angka: jumlah views, likes, shares, atau followers.
Mas Aji mengingatkan agar angka-angka tersebut tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan karya Komsos.
Komunikasi yang baik bukan hanya komunikasi yang menghasilkan banyak angka, tetapi komunikasi yang mampu menyentuh manusia, membangun relasi, menumbuhkan kepercayaan, dan membuka ruang perjumpaan.
Dengan demikian, teknologi justru perlu digunakan untuk memperkuat dimensi personal dalam komunikasi, bukan membuat karya Komsos semakin berjarak dari kehidupan nyata umat.
Menjaga Kepercayaan di Tengah Era Informasi
Tantangan lain yang semakin nyata di era digital adalah persoalan keaslian informasi. Kemajuan teknologi memungkinkan orang menghasilkan dan memanipulasi berbagai bentuk konten dengan tingkat kemiripan yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.
Dalam situasi seperti ini, Komsos memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kepercayaan publik.
Budaya verifikasi, ketelitian dalam menyampaikan informasi, serta keberanian untuk tidak ikut menyebarkan informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan menjadi bagian penting dari integritas karya komunikasi Gereja.
Komsos dipanggil bukan hanya menjadi pihak yang cepat menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi pihak yang dapat dipercaya.

Teknologi Berubah, Panggilan Komsos Tetap
Hari ketiga ToT Komsos 2026 akhirnya membawa para peserta pada sebuah kesadaran bahwa perkembangan teknologi tidak perlu ditakuti. Sebaliknya, teknologi perlu dipelajari, dipahami, diuji, dan digunakan secara bijaksana.
Para Ketua Komsos dan pegiat Komsos Keuskupan diajak untuk menjadi komunikator yang mampu berjalan bersama perkembangan zaman tanpa kehilangan orientasi dasarnya.
Teknologi boleh berubah. AI boleh semakin canggih. Cara manusia memproduksi dan menyebarkan informasi pun akan terus berkembang.
Namun, panggilan Komsos tetap sama: menghadirkan manusia bagi sesamanya, membangun relasi, menjaga kepercayaan, dan membuka ruang bagi perjumpaan yang nyata.
Sebab, pada akhirnya, komunikasi Gereja bukan hanya tentang seberapa jauh pesan dapat menjangkau, tetapi juga tentang seberapa dalam manusia dapat berjumpa.
