Kamis, April 30, 2026
Berita

Katekese APP di KUB Santo Mikhael Malaikat Agung Berlangsung Khidmat, Angkat Tema Pantang dan Puasa sebagai Dasar Solidaritas Misioner

Kupang, 7 Maret 2026 — Kelompok Umat Basis (KUB) Santo Mikhael Malaikat Agung di Wilayah Oebobo B menggelar kegiatan Katekese Aksi Puasa Pembangunan (APP) pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan yang merupakan pertemuan kedua dalam rangkaian program APP selama Masa Prapaskah ini berlangsung dengan khidmat dan dihadiri lebih dari 20 umat yang dengan antusias mengikuti seluruh rangkaian katekese.

Katekese dipandu oleh Ibu Mery Tapun sebagai fasilitator dengan mengangkat tema “Pantang dan Puasa sebagai Dasar Solidaritas Misioner.” Dalam pengantar katekese, ia menjelaskan bahwa pantang dan puasa bukan sekadar kewajiban liturgis bagi umat Katolik, melainkan sarana penting untuk pertumbuhan spiritual, pertobatan, serta pembentukan solidaritas dengan sesama, khususnya mereka yang miskin dan menderita.

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Gereja Katolik, puasa berarti mengurangi asupan makanan, yakni makan kenyang hanya sekali dalam sehari, dan secara khusus dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Sementara itu, pantang berarti menahan diri dari sesuatu yang pada dasarnya baik atau menjadi kebiasaan sehari-hari. Pantang dapat dilakukan selama Masa Prapaskah, misalnya pantang dari kebiasaan merokok, mengunyah sirih pinang, atau kebiasaan lain yang sering dilakukan.

Menurutnya, puasa tidak hanya dimaknai sebagai pengosongan diri, tetapi sebagai persiapan rohani untuk menghadapi berbagai godaan kehidupan. Makna puasa yang lebih dalam terletak pada sikap batin, pertobatan, serta empati terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan hidup.

Tema katekese kemudian dikaitkan dengan kisah pencobaan Yesus di padang gurun sebagaimana tercatat dalam Injil Matius 4:1-11. Selama empat puluh hari berpuasa, Yesus menghadapi tiga bentuk godaan yang menjadi bahan refleksi bagi umat. Pertama, godaan terhadap kebutuhan fisik yang melambangkan kecenderungan manusia untuk mengutamakan kebutuhan jasmani di atas nilai-nilai spiritual. Kedua, godaan terhadap kuasa dan kemasyhuran dunia yang menggambarkan ambisi dan godaan kekuasaan. Ketiga, godaan untuk menguji Tuhan, yakni menggunakan iman demi sensasi atau pembuktian diri.

Dalam sesi berbagi pengalaman iman, beberapa umat membagikan pengalaman hidup mereka terkait praktik pantang dan puasa. Ibu Paulina mengungkapkan bahwa meskipun usia wajib puasa menurut Gereja adalah 18 hingga 60 tahun, ia tetap berusaha menjalankan puasa walaupun usianya telah melewati batas tersebut. Ia juga mengenang pengalaman masa kecil ketika guru di sekolah dasar mengajarkan untuk tidak makan daging dan garam selama masa puasa dan pantang. Selain itu, ia juga diajarkan oleh orang tuanya untuk pantang membicarakan orang lain atau menyebut nama orang secara tidak baik.

Sementara itu, Ibu Wati membagikan pengalaman melakukan puasa selama tujuh hari dengan hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih. Ia mengakui bahwa pengalaman tersebut sangat berat karena terbiasa makan dengan sayur dan lauk. Namun pada akhirnya ia merasakan kelegaan secara fisik dan rohani, bahkan merasa lebih ringan secara batin. Ia juga menceritakan pengalaman menghadapi berbagai godaan selama bekerja, terutama tawaran-tawaran yang berkaitan dengan harta dan uang. Demi menjaga hati nurani, ia memilih keluar dari zona nyaman agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang bertentangan dengan nilai iman.

Pengalaman serupa juga dibagikan oleh Bapak Yeremias. Ia menceritakan godaan yang pernah dialaminya ketika dipercaya memimpin sebuah sekolah. Saat itu ia pernah ditawari sebidang tanah oleh orang tua murid sebagai bentuk imbalan. Namun ia menolak tawaran tersebut secara halus karena merasa baru menerima kepercayaan dari pimpinan yayasan dan tidak ingin menyalahgunakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Di akhir pertemuan, fasilitator mengajak seluruh umat untuk membuat komitmen pribadi dalam menjalankan pantang dan puasa selama Masa Prapaskah. Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa iman sejati tidak hanya diungkapkan dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata.

Melalui praktik pantang dan puasa, umat diajak untuk semakin menyelaraskan diri dengan perjalanan Yesus menuju Kalvari. Dalam setiap pengorbanan kecil yang dijalani, terdapat benih-benih pertobatan, harapan, dan semangat misioner yang diharapkan dapat terus bertumbuh dalam kehidupan umat.

(Silvester Tena)

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *