Jumat, Juni 14, 2024
Serba-Serbi

YESUS: TELADAN GERAKAN YANG MELAYANI

Oleh RD. Hironimus Pakaenoni
(Ketua Komisi Kerawam KAK)

Permintaan Yakobus dan Yohanes Bukan memerintah melainkan melayani (Mrk 10:35-45)

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” 10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” 10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” 10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.” 10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Komentar atas teks Mrk 10:35-45
Perikop atau pasal ini memainkan peran kunci dalam pemahaman Injil Markus tentang mengapa Yesus mati dan apa arti kematian-Nya. Hal ini menggambarkan Injil (Kabar Sukacita) Kristen dan komunitas yang dihasilkannya sebagai sesuatu yang benar-benar berbeda dari “komunitas bisnis manusiawi pada umumnya” yang kita temui di sekeliling kita. Pada saat yang sama, kata-kata Yesus dalam Mrk 10:45 sering disalahartikan dan digunakan untuk mendukung proposal teologis yang asing bagi Injil Markus. Karena itu, khotbah-khotbah, pewartaan, dan pengajaran Kristen memberikan kesempatan pilihan untuk mengetahui inti dari kematian Yesus dan apa artinya bagi kepenuhan hidup murid-murid-Nya.

Yakobus dan Yohanes (10:35-40)
Dalam adegan sebelumnya (10:32-34), Yesus menyampaikan ramalan terakhir dan paling rinci tentang pengadilan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya (bandingkan dengan referensi yang kurang formal tentang kematian yang akan datang dalam Mrk 14:8, 17-28). Dia akan masuk ke kota Yerusalem (Mrk 11:1-11) dan menghadapi para aristokrat/kaum feudal/ bangsawan yang berbasis bait suci.

Yakobus dan Yohanes meminta tempat-tempat istimewa di kursi sebelah kanan dan kiri Yesus. Dengan melakukan itu, anak-anak Zebedeus tersebut sepertinya telah melewatkan atau mengabaikan saja segala sesuatu yang telah dikatakan dan dilakukan Yesus sejak perjalananNya ke Kaisarea Filipi di mana terjadi pengakuan Petrus (Mrk 8:27-30), kecuali mungkin peristiwa transfigurasi di gunung Tabor (Mrk 9:2-8). Mereka menyadari bahwa “kemuliaan” menanti Yesus. Wewenang yang telah ditunjukkan-Nya dalam pelayanan-Nya akan mengarah pada sesuatu yang besar, mungkin pada pemerintahan kerajaan, dan diam-diam mereka sepakat dan bersekongkol untuk memanfaatkan hal itu.

Ketika Yesus dengan lembut menegur keduanya karena ketidakpahaman/ketidaktahuan mereka, dan ketika Yesus berbicara tentang “piala” yang harus diminum-Nya (Mrk 14:36) serta “baptisan” yang harus diterima-Nya, Dia mengulangi bahwa kekerasan dan kematian menantiNya di Yerusalem. Begitulah peranNya sesuai dengan karakter paradoks dari pemerintahanNya, yang mengantar Dia pada kematian sebagai seorang “raja” yang dihina dan tanpa kekuatan apapun.

Injil Markus menekankan bahwa, di satu sisi, penolakan massa dan kematianNya yang tragis tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi logis dari jati-diri Yesus (sebagai Anak Manusia) dan misiNya yang dianggap melanggar batas; dan di lain sisi, karena mereka yang merasa memiliki kekuasaan duniawi akan melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dan hak istimewa mereka dari implikasi karya misioner Yesus.

Para Tirani, Para Pelayan, dan Kebebasan (10:41-45)
Meskipun Yakobus dan Yohanes menyatakan kesiapan mereka untuk menderita bersama Yesus, Dia menunggu sampai saatnya nanti untuk menjelaskan bahwa mereka akan gagal melakukannya dalam waktu dekat (Bdk. kisah penyangkalan Petrus dan tercerai-berainya para murid pada saat penangkapan dan pengadilan Yesus, dalam Mrk 14:26-50). Sebaliknya, dalam Mrk 10:41-45, Yesus mengatasi keinginan mereka untuk kekuasaan dan kemuliaan. Yesus mengomentari sifat kekuasaan manusia; suatu jenis kekuasaan yang akan segera menghancurkanNya dalam drama politik pengadilan dan eksekusiNya, serta makna kematian-Nya. Yesus menempatkan hidup dan mati-Nya, bersama dengan kehidupan dan penderitaan para pengikut-Nya, dalam oposisi sepenuhnya terhadap ekspresi kekuasaan duniawi yang tiran dan represif semacam itu. Yakobus dan Yohanes bukanlah satu-satunya murid yang tergoda oleh visi pemerintahan dan kekuasaan triumfalis (yang mengutamakan kejayaan). Nyatanya, kesepuluh murid lainnya merasa kesal atas usaha kedua bersaudara itu untuk melampaui mereka dalam hal keunggulan. Hal ini berarti, bahwa ternyata para murid yang lain pun menyimpan ambisi yang sama, walau secara tersembunyi/diam-diam (Bdk. konsep Friedrich Nietzche tentang The Will to Power).

Yesus memperbaiki pandangan mereka dengan mengangkat konvensi-konvensi (aturan/norma-norma) otoritas sosial-politik bangsa asing (Romawi) sebagai contoh negatif. Mereka secara teratur “menguasai” dan “menindas” orang lain (Mrk 10:42). Mereka mengandalkan paksaan dan kontrol untuk mempertahankan dominasi serta hak istimewa mereka. Penginjil Markus sudah memberikan contoh jelas dan tegas dalam kisah kematian Yohanes Pembaptis (6:14-29), di mana kepentingan diri dan perlindungan diri mengalahkan keadilan untuk memastikan kematian Yohanes Pembaptis. Pengadilan terhadap Yesus dalam Mrk 14:53-15:15 memanifestasikan jenis teatrik atau drama politik yang sama.

Sebaliknya, kebesaran di antara para murid Yesus ditakar dari kemampuan mereka untuk hidup sebagai pelayan atau hamba, sekalipun jika hidup itu berarti penderitaan akibat penindasan oleh mereka yang memegang kekuasaan. Yesus telah berbicara dengan istilah yang sama di dalam Mrk 9:33-37 (tentang siapa yang terbesar di antara para murid), di mana Ia membandingkan diriNya dengan seorang anak kecil; sebuah gambaran mengenai kelemahan dan kerentanan. Ia akan menggambarkan ketaatan semacam itu dalam penderitaanNya, ketika Ia mengafirmasi janji kemuliaanNya (Mrk 14:62), tetapi tetap dengan melepaskan kekuasaan/kekuatan untuk mengendalikan nasibNya atau mengalahkan orang lain.

Sabda Yesus pada ayat terakhir dari perikop Mrk 10:35-45, “Sebab Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang”, terhubung dengan perkataan Yesus sebelumnya tentang pelayanan dan perhambaan, yang menunjukkan bahwa kematian-Nya akan menjadi contoh untuk cara hidup seperti itu. Di sisi lain, kematian Yesus menggambarkan kekerasan dan perlawanan terhadap pengajaran dan pelayananNya, yang muncul dari mereka yang memegang kekuasaan atas masyarakat. Hal ini juga menggambarkan penolakan radikal terhadap otoritas dan hak istimewa, sebagaimana lazim terjadi (Bdk. Mrk 8:34-36, tentang syarat-syarat mengikuti Yesus). Yang membuat penolakan itu begitu radikal sesungguhnya berkaitan dengan identitas Dia yang menjadi sasaran kebencian, yakni Yesus, sebagai agen otoritas istimewa dari Allah sendiri.

Pada saat yang sama, penyebutan Yesus tentang “tebusan” menunjukkan bahwa kematian-Nya akan lebih dari sekadar contoh inspiratif atau protes tragis seorang martir terhadap sistem yang tidak adil. Dalam kasus ini, kata Yunani lytron (= tebusan), menunjukkan bahwa kematian-Nya adalah untuk melakukan sesuatu, yakni menjamin pembebasan. Ayat ini sering memicu perdebatan sengit, dan dalam sejarah, sering disalahpahami oleh mereka yang menganggap gagasan “tebusan” sebagai pembayaran tertentu. Dalam wacana-wacana itu, kematian Yesus dianggap bersifat transaksional: sebuah pembayaran yang dilakukan untuk memuaskan hukuman yang timbul akibat dosa manusia atau untuk membayar sesuatu yang tertunggak kepada Allah.1

Namun, konteks eksplisit di mana pernyataan ini muncul adalah tentang kekuasaan dan pelayanan, dan bukannya mengenai masalah dosa atau kebutuhan untuk menjamin dan mengamankan pengampunan. Selanjutnya, penggunaan istilah lytron (=tebusan) dan kata-kata yang terkait dengannya dalam Perjanjian Lama (Septuaginta), meskipun terkadang merujuk pada penebusan atau pembebasan yang dibeli, tidak jarang juga merujuk pada tindakan Tuhan untuk menyelamatkan umat (Israel). Lytron (tebusan) adalah pembebasan yang dilakukan oleh kekuatan ilahi, bukan dengan pembayaran, apalagi berupa sogok/suap/ dari pihak Allah terhadap penguasa yang tiran dan represif (Bdk. contoh kata-kata yang berkaitan dengan istilah lytron dalam Kel 6:6; Ul 15:15; 2 Sam 7:23; Mzm 69:18; Yes 43:14).2

Karena itu, Yesus tanpa henti-hentinya menyatakan untuk menjelaskan dengan tepat bagaimana Allah, melalui kematian Yesus, akan memerdekakan orang dari penindasan dan perbudakan terhadap kekuatan lain, mengembalikan mereka ke dalam anggota komunitas yang sesuai dengan pemerintahan Allah.

Kesimpulan:
Pertama: konteks Markus 10:41-45 menggambarkan Yesus sebagai seorang “pelayan/hamba” dalam arti sebagai teladan. Artinya, Dia mengajarkan murid-murid-Nya untuk mengikuti teladan-Nya (sebagai pelayan/hamba). Berbeda dengan uraian Yesaya 53:10-12 mengenai penderitaan “hamba Yahweh” (yang biasanya digunakan sebagai bacaan I pada hari Minggu Biasa ke-29 tahun B dan disandingkan dengan teks Injil Markus 10:35-45 yang menjadi bahan permenungan kita), tidak ada ajakan bagi para pembaca/pendengar untuk mengikuti teladannya. Dalam hal ini, mudah untuk mengasumsikan bahwa “hamba Yahweh” versi Yesaya itu bertindak seperti yang dia lakukan, sehingga kita tidak perlu melakukannya. Sebaliknya, Markus 10:35-45 menyajikan penderitaan Yesus sebagai Hamba dengan cara dan maksud lain, yakni sebagai Model Pelayanan dan Pengorbanan yang total, rendah hati, tulus, dan tanpa pamrih, yang patut diteladani oleh semua mereka yang menyebut diri sebagai murid-muridNya.

Kedua: perlu dipertimbangkan bahwa Yesus membuat komentar singkat (dalam Mrk 10:45) ini dalam konteks yang lebih luas, yang mengakui godaan serta daya tarik kekuasaan yang, jika tidak diwaspadai, dapat menjebak dan memerangkap bukan hanya Yakobus dan Yohanes, melainkan siapa saja (termasuk kita semua, di sini dan sekarang). Perhatikan bahwa perikop ini dan Injil Markus secara keseluruhan mengakui berbagai bentuk penindasan yang menimpa kita dan yang dapat juga kita gunakan untuk menindas sesama.

Ketiga: sekalipun masa hidup Yesus dan juga karya missioner berupa pelayanan kasih-Nya sebagai seorang Hamba di depan publik terbilang sangat singkat, bahkan berakhir tragis akibat kekerasan, penolakan, dan perlawanan para penguasa otoriter terhadap diri dan misiNya, Yesus sungguh yakin bahwa semua yang telah dikerjakanNya tidak akan sia-sia. Melalui para murid, khususnya kedua-belas rasul yang telah digembleng atau dikaderkanNya (juga dalam waktu yang relatif singkat), dan teristimewa melalui intervensi ilahi Allah yang misterius dan tersembunyi, ternyata semua yang telah dirintis Yesus menghasilkan buah berlimpah. Melalui karya berjuta-juta pria dan wanita, serta berkat penyertaan misterius Roh Kudus, misi pelayanan itu terus berkembang subur dan menyebar sampai ke ujung-ujung bumi. Inilah juga buah kepercayaan yang demikian besar dan total dari Yesus terhadap Allah-BapaNya, “Ya Bapa, sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu daripadaKu; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendakMu-lah yang terjadi” (Mat 26: 39). Dalam hal ini, kita pun perlu belajar dari Yesus yang sungguh tahu dan sadar diri, dengan mempercayakan segala sesuatu, termasuk estafet misi pelayanan kepada penyelenggaraan ilahi Allah, ketimbang mengandalkan daya, kekuatan, dan kehebatan diri sendiri, dengan konsekuensi terjebak dalam godaan mempertahankan atau melanggengkan kekuasaan, apalagi melalui cara-cara yang tidak halal.

Beberapa Pertanyaan Reflektif:

  • Dari siapa atau apa, kematian Yesus ini menyelamatkan umat/masyarakat? Menurut konteks langsung, kematian Yesus ini menyelamatkan umat/masyarakat dari konstelasi kekuasaan sosial dan politik yang manusia ciptakan untuk mengendalikan satu sama lain. Menurut lingkup lebih luas dari Injil Markus, kematian Yesus ini menyelamatkan kita dari kekuatan setan/iblis yang menaklukkan dunia dan menentang rencana Tuhan (1:23-24; 3:27). Dan menurut kisah sengsara dan kebangkitan, Tuhan kita Yesus Kristus telah mengalahkan kekuatan kematian itu sendiri.
  • Bagaimana dengan dosa dan pengampunan? Tentu saja Injil Markus menjanjikan pengampunan. Pertobatan dan pengampunan merupakan bagian dari pewartaan dan pelayanan Yesus (1:4; 2:5; 3:38). Tetapi penginjil Markus menyajikan topik-topik ini (pertobatan dan pengampunan) sebagai bagian-bagian subordinat dalam pertarungan apokaliptik (ramalan tentang kehancuran, sebagai pengungkapan rahasia dari kebenaran-kebenaran mendasar) yang lebih komprehensif, yang melihat kosmos dan keberadaan manusia diubah oleh intervensi pemerintahan Allah dan oleh kematian serta kebangkitan Yesus Kristus.
  • Siapa yang mendapat manfaat? Sebutan Yesus sebagai “tebusan” bagi banyak orang menekankan kontras (pertentangan) antara banyak dan satu yang bertindak untuk mereka (yang banyak). Di sini, “banyak” memiliki arti “semua” atau “setiap orang,” yang sesuai dengan cakupan kosmis dari drama apokaliptik Markus.
  • Apa artinya bagi gereja, jemaat, dan individu Kristen untuk meniru Yesus, yang menyerahkan diri kepada rancangan musuh-musuhNya yang kuat? Dan bagaimana kita, di tempat tinggal atau tempat kerja kita masing-masing, mengalami realitas pembebasan beragam yang telah berhasil dilakukan Allah untuk kita melalui kematian Yesus Kristus, dan bukan melalui keberhasilan atau kegagalan kita dalam mengadopsi peran sebagai hamba/pelayan bagi orang lain?
  • Mengapa Yesus menyebut dirinya Anak Manusia daripada justru mengatakan bahwa Dia adalah Mesias yang diurapi, ditinggikan, dan ilahi? Alasan utama mengapa Yesus menggunakan gelar “Anak Manusia” adalah “karena gelar itu mengekspresikan rasa keterhubungannya dengan semua manusia dalam simpati, nasib, dan takdir mereka. Dia merasa diriNya disamakan dengan semua orang sebagai saudara, sesama penderita, wakil, dan pejuang mereka; dan, dalam beberapa hal, kata terdalam yang pernah diucapkanNya adalah dalam Markus 10:45. Selain itu, sepanjang pelayananNya, Yesus selalu waspada bahwa orang-orang akan salah mengartikan gelar “Mesias” dan perbuatan-perbuatan ajaib atau mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya. Karena itu, misalnya, Dia sering memberi instruksi kepada orang-orang yang disembuhkanNya, untuk tidak memberitahukan tentang siapa yang telah menyembuhkan mereka. Terlalu banyak orang yang menginginkan Yesus untuk menyatakan diriNya sebagai seorang Mesias Politik, “Raja Perkasa” yang akan menghancurkan musuh Israel, yaitu kekaiseran Romawi. Namun, misi Yesus pada kedatangan-Nya yang pertama adalah untuk menderita dan mati sebagai korban pendamaian. Untuk mencegah gejolak mesianik yang salah atau keliru semacam ini, Yesus menggunakan gelar manusiawi “Anak Manusia”, walaupun tetap mengindikasikan bahwa (1) suatu hari nanti, Dia benar-benar akan memperoleh Kerajaan atas bumi, dan bahwa (2) lebih dari sekadar manusia biasa, Dia-lah sosok ilahi yang ditinggikan dan dimuliakan melalui Salib, demi menuntaskan misi pelayananNya, yakni menebus dan membebaskan umat manusia dari berbagai macam perbudakan, terutama perbudakan dosa.
  1. Dalam konteks budaya para pendengar Markus, musuh tidak melepaskan tawanan mereka tanpa pembayaran. Dalam Injil Markus, Yesus, Anak terkasih Allah, “memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang”, tetapi tidak tanpa menanyakan Bapa-Nya (Mrk 14:36; Bdk. juga kisah tentang Ishak dalam Kej 22:7). Namun, kematian satu orang yang diberikan sebagai ganti untuk banyak orang adalah kemenangan sementara bagi kekuatan yang menentang pemerintahan Allah, baik kosmik maupun manusiawi. Dengan membangkitkan Yesus dari kematian, Allah membenarkannya sebagai Mesias dan menipu musuh-musuh-Nya, meninggalkan mereka dengan tangan hampa, sebagai sesuatu yang layak mereka terima.
    Pemahaman biblis tentang kata “tebusan” (Yun.: lystron) sebagai pembayaran ini terus berlanjut di kalangan Bapa-bapa Gereja dan para teolog Kristen dari Irenaeus hingga Yohanes dari Damaskus, termasuk Origenes, Athanasius, Basilius Agung, Gregorius dari Nyssa, Cyrilus dari Alexandria, dan Yohanes Krisostomus. Mereka mempertahankan bahwa Allah menjadi manusia dalam Yesus dan menjadi pembayaran untuk tebusan atau pertukaran bagi umat manusia. Tebusan dipahami sebagai pembayaran kepada Iblis, atau kepada Maut yang disebabkan oleh Iblis. Tetapi dalam kebangkitan, Kristus diselamatkan kembali, dan dengan demikian menipu Iblis. Baru sejak Anselmus dari Canterbury (1033 – 1109), kita menemukan sepenuhnya perkembangan gagasan bahwa tebusan dibayar kepada Allah (oleh Allah yang menjelma), dan bukannya kepada Iblis atau Maut. Inilah pandangan Cur Deus Homo (“Mengapa Allah menjadi Manusia”) menurut Anselmus dari Canterbury: “…umat manusia berutang sesuatu (yakni dosa) yang tidak dapat mereka bayar, tetapi Yesus dapat membayarnya, karena sebagai Allah, Dia memiliki sumber daya untuk membayar”. Bahkan hingga saat ini, pandangan Anselmus ini sering dibaca kembali dalam interpretasi pernyataan tebusan penginjil Markus dalam 10:45.
  2. Kel 6:6: “Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir”.
Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *