ALLAH HADIR UNTUK MENYELAMATKAN KELUARGA
SURAT GEMBALA NATAL 2025
USKUP AGUNG KUPANG
“ALLAH HADIR UNTUK MENYELAMATKAN KELUARGA”
(Mat 1:21–24)
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus menyertai Anda sekalian bersama keluarga Anda.
Saat kita dengan penuh sukacita merayakan Hari Raya Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Saya menyampaikan salam damai sejahtera kepada Anda semua: para imam, biarawan-biarawati, lembaga hidup bakti, keluarga-keluarga, anak-anak, remaja, kaum muda, para orang-tua, kakek-nenek, serta semua orang yang berkehendak baik.
Natal adalah pewartaan agung bahwa sesungguhnya Allah tidak jauh. Melalui misteri Inkarnasi, penjelmaan sang Sabda menjadi daging, Allah masuk ke dalam sejarah manusia, ke dalam rumah-rumah kita, keluarga-keluarga kita, dan komunitas-komunitas kita. Ia hadir dan tinggal di antara kita dalam diri AnakNya. Penginjil Matius mewartakan bahwa Anak Allah ini adalah Imannuel, yang berarti “Allah beserta kita” (bdk. Mat 1:23). Selain itu, penginjil Matius juga mengingatkan kita bahwa Anak yang akan dilahirkan oleh Maria ini harus dinamai Yesus, “karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (bdk. Mat 1:21). Dengan demikian, melalui Yesus yang adalah Immanuel, Allah masuk ke dalam situasi nyata pergumulan hidup kita sehari-hari untuk menyelamatkan kita.
Anak Allah ini datang ke dunia tidak dalam keterasingan. Ia memilih untuk dilahirkan dalam sebuah keluarga. Yesus dipercayakan kepada Maria dan Yosef, sebuah keluarga sederhana yang juga sering mengalami ketidakpastian, ketakutan, dan kerentanan sosial. Namun justru di dalam keluarga inilah Allah melaksanakan rencana keselamatan-Nya. Dengan masuk ke dalam sebuah keluarga, Allah menguduskan kehidupan keluarga-keluarga. Natal mengajarkan kita bahwa keluarga bukanlah sekadar lembaga sosial buatan manusia, melainkan tempat yang kudus, tempat Allah tinggal, berbicara, dan menyelamatkan. Dengan latar belakang ini, kita boleh memahami tema Natal kita tahun ini: “Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga”.
Penginjil Matius menghadirkan Yosef sebagai seorang yang beriman dan taat. Ketika menghadapi kebingungan dan ketakutan, ia mendengarkan Sabda Allah dan bertindak dengan keberanian. Meskipun tidak harus menghadapi perundungan media sosial seperti zaman sekarang, Yosef tentu harus menanggung berbagai bisik-bisik dan gunjingan ketika ia membawa Maria yang sudah mengandung ke rumahnya sebagai isterinya, ketimbang menceraikannya seperti yang dituntut oleh Hukum Musa. Dengan menerima Maria dan Bayi dalam kandungannya, Yosef menjadi pelindung Keluarga Kudus Nazaret (bdk. Mat 1:24). Kemudian, ketika Maria sudah berada pada tahap akhir kehamilannya, Yosef harus melakukan perjalanan yang berat dari Nazaret ke Betlehem untuk mengikuti sensus penduduk (bdk. Luk 2:1–5). Dan di kota yang penuh sesak itu, ia harus mencari tempat agar Maria dapat melahirkan Anaknya dengan aman.
Selanjutnya, ketika Raja Herodes berencana menyingkirkan setiap kemungkinan saingan bagi takhtanya, Yosef harus melarikan diri pada malam hari bersama Maria dan Bayi Yesus ke Mesir, di mana mereka tinggal sampai Herodes wafat (bdk. Mat 2:14–15). Betapa sulit dan beratnya masa itu bagi Yosef sebagai kepala Keluarga Kudus Nazaret. Menggunakan gambaran indah dari seorang sastrawan Polandia, Jan Edmund Dobraczyński, dalam novelnya The Shadow of the Father (“Bayangan Sang Bapa”), Yosef adalah bayangan duniawi dari Bapa surgawi. Hidupnya secara manusiawi mewujudkan dan memantulkan kasih lembut Allah Bapa kepada Putra-Nya yang terkasih. Meskipun jelas bahwa Yosef bukanlah ayah biologis Yesus, dia tetap merupakan seorang ayah sejati bagi-Nya. Paus Fransiskus berkata: “Seorang ayah sejati tidak dilahirkan, melainkan dibentuk. Seorang pria menjadi ayah tidak hanya dengan melahirkan seorang anak ke dunia, tetapi dengan memikul tanggung jawab untuk merawat anak itu”. Bersama Maria, Yosef mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjaga, merawat, dan mendidik Yesus. Dalam perannya yang hakiki sebagai “bapa bayangan”, ia tidak pernah menjadikan dirinya pusat perhatian. Seluruh hidupnya justru berfokus pada tanggung jawabnya untuk melindungi dan merawat Yesus dan Maria.
Pada zaman ini, sosok Yosef, dan juga Maria, mengingatkan kita bahwa keluarga diselamatkan bukan oleh kesempurnaan, melainkan oleh kepercayaan kepada Allah, kasih yang setia, dan ketaatan hati. Para orang tua dipanggil untuk meneladani Yosef dan Maria dengan cara membimbing keluarga mereka sesuai dengan kehendak Allah. Di tengah situasi nyata kehidupan kita dewasa ini yang masih saja terus dibayang-bayangi aneka persoalan dan kasus seperti: kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, aborsi, euthanasia, bunuh diri dan pembunuhan, perdagangan orang, eksploitasi terhadap kaum wanita dan anak-anak, judi dan pinjaman online, penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang, serta pergaulan bebas para remaja dan kaum muda dengan segala dampaknya yang memprihatinkan, keluarga-keluarga dipanggil untuk melindungi sekaligus mempromosikan “budaya kehidupan”, menghormati serta membela hak asasi dan martabat hidup manusia sejak awal terjadinya kehamilan hingga kematian alami. Dengan itu, semua dan setiap orang dapat menghargai hidupnya sendiri dan boleh memandang dengan penuh harapan masa depan yang cerah, sejahtera, dan bahagia.
Untuk itu, keluarga-keluarga diharapkan tetap menjadi sekolah pertama dalam hal iman, harap, kasih, serta nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi keluarga-keluarga dewasa ini, Natal mengajak kita untuk memperbarui komitmen akan doa dalam keluarga, saling menghormati, kesetiaan dalam perkawinan, perhatian terhadap anak-anak dan para lansia, serta perlindungan terhadap kehidupan keluarga.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pesan Natal sesungguhnya membawa penghiburan dan harapan bagi keluarga-keluarga dewasa ini yang tidak pernah sepi dari berbagai persoalan, tantangan, dan kesulitan. Immanuel, Allah beserta kita, menegaskan bahwa tidak ada keluarga yang dilupakan, tidak ada rumah yang ditinggalkan, dan tidak ada penderitaan yang luput dari perhatian-Nya. Di mana ada kasih, pengampunan, doa, dan pengorbanan, di situ Allah hadir. Bahkan dalam keluarga-keluarga yang terluka, Kristus dilahirkan kembali, membawa penyembuhan dan harapan.
Marilah kita menjadikan rumah-rumah kita sebagai “Betlehem-Betlehem kecil”, tempat Kristus diterima, Sabda Allah dihormati, dan Kasih dihidupi setiap hari. Saat kita merayakan kelahiran Immanuel, Sang Juru Selamat, semoga kita membuka pintu hati, rumah, dan keluarga kita bagi kehadiran Allah yang hidup. Semoga Yesus, yang dilahirkan dari Maria dan dipercayakan kepada Yosef, memberkati setiap keluarga kita dengan damai, persatuan, dan sukacita. Bersama Maria dan Yosef, marilah kita mewartakan melalui hidup kita bahwa Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga.
Selamat merayakan Natal yang penuh rahmat dan Tahun Baru 2026 yang penuh berkat.
Kupang, 22 Desember 2025.
Salam dan berkat,
Mgr. Hironimus Pakaenoni
Uskup Agung Kupang
