Selasa, Juli 28, 2026
Berita

Pelatihan Lectio Divina, Fasilitator Katekese, dan Sosialisasi BKSN 2026 di Paroki St. Maria Imaculata Kapan

Kabut tebal menyelimuti kawasan Kapan sejak pagi. Udara pegunungan yang dingin berpadu dengan gerimis yang sesekali turun, seolah menjadi irama alam yang mengiringi langkah puluhan peserta menuju Aula Paroki St. Maria Imaculata Kapan, Sabtu (26/7/2026). Namun, cuaca yang kurang bersahabat itu sama sekali tidak mengurangi semangat para katekis, guru agama, utusan kapela, Orang Muda Katolik (OMK), serta para pelayan pastoral dari seluruh wilayah paroki untuk berkumpul, belajar, dan memperdalam pelayanan mereka melalui Pelatihan Lectio Divina, Pelatihan Fasilitator Katekese, sekaligus Sosialisasi Bahan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Relawan Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang (KAK) bersama Ketua Komisi Kitab Suci KAK, RD. Siprianus Senda, ini menjadi ruang pembekalan sekaligus perjumpaan bagi mereka yang nantinya akan menjadi penggerak katekese di tingkat KUB, kapela, OMK, maupun SEKAMI.

Tepat pukul 08.00 WITA, pelatihan dibuka dengan pemaparan mengenai Kitab Suci Terjemahan Baru 2 (TB 2). Dalam suasana yang hening, para peserta menyimak setiap penjelasan yang disampaikan Romo Sipri mengenai pembaruan dalam terjemahan tersebut serta pentingnya memahami Kitab Suci secara semakin tepat dan mendalam. Berbagai pertanyaan muncul pada sesi diskusi, menunjukkan besarnya rasa ingin tahu peserta terhadap penggunaan TB 2 dalam kehidupan menggereja maupun dalam pelayanan katekese.

Suasana kemudian berubah lebih cair ketika sesi ice breaking dimulai. Tawa dan canda memenuhi aula, menghangatkan tubuh sekaligus mencairkan kekakuan yang sempat tercipta. Dari suasana yang penuh sukacita itu, peserta diajak memasuki inti pelatihan, yakni mendalami metode Lectio Divina.

Dalam sesi ini, Romo Sipri mengajak peserta memahami lima tahapan Lectio Divina: Lectio, Meditatio, Contemplatio, Oratio, dan Actio. Namun perhatian peserta secara khusus tertuju pada tahap pertama, Lectio, ketika Romo Sipri memperkenalkan pendekatan 5W1H sebagai cara sederhana namun efektif untuk menggali makna sebuah teks Kitab Suci.

Metode yang tergolong baru bagi sebagian besar peserta itu langsung menarik perhatian. Melalui pertanyaan What, Who, When, Where, Why, dan How, peserta diajak membaca teks Injil secara lebih teliti sebelum melangkah kepada permenungan yang lebih mendalam. Pendekatan ini membuat proses membaca Kitab Suci terasa lebih hidup, interaktif, dan mudah dipahami.

Agar pemahaman tidak berhenti pada teori, peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Didampingi Tim Relawan Komisi Kitab Suci KAK, mereka mempraktikkan penggunaan metode 5W1H pada sebuah teks Injil. Suasana aula pun berubah menjadi ruang diskusi yang dinamis. Setiap kelompok saling bertukar pandangan, mengajukan pertanyaan, dan bersama-sama menemukan pesan Sabda Allah dari teks yang direnungkan.

Romo Sipri tidak hanya menyampaikan materi dari depan ruangan. Ia berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain, mendengarkan hasil diskusi, meluruskan pemahaman yang kurang tepat, sekaligus memberikan penguatan kepada setiap peserta. Sesekali terdengar gelak tawa ketika peserta yang mampu mengajukan pertanyaan kritis atau memberikan jawaban terbaik mendapatkan hadiah berupa buku langsung dari Romo Sipri. Di tengah dinginnya udara Kapan, semangat belajar justru semakin terasa hangat.

Setelah beristirahat pada pukul 13.00 hingga 14.45 WITA, kegiatan kembali dilanjutkan pukul 15.00 WITA dengan Doa Kerahiman Ilahi dan Koronka bersama. Suasana doa membawa seluruh peserta memasuki sesi berikutnya dengan hati yang lebih tenang dan siap menerima pembekalan selanjutnya.

Pada sesi sore, Romo Sipri memperkenalkan Bahan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, mulai dari tema umum hingga pokok-pokok pendalaman untuk empat minggu pertemuan katekese. Penjelasan tersebut diharapkan membantu para peserta mempersiapkan diri sebelum memasuki Bulan Kitab Suci Nasional.

“Pelatihan ini juga bertujuan mempersiapkan para peserta yang nantinya akan berperan sebagai fasilitator katekese, baik di KUB, kapela, maupun dalam pendampingan OMK dan SEKAMI,” jelas Romo Sipri.

Pembekalan kemudian dilanjutkan oleh salah satu anggota Tim Relawan Komisi Kitab Suci KAK, Ibu Magdalena Hokor, yang membawakan materi tentang Fasilitator Katekese. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan siapa yang dapat menjadi fasilitator, apa tugas dan tanggung jawabnya, serta sikap-sikap yang perlu dimiliki agar mampu mendampingi proses katekese secara efektif.

“Peran fasilitator dalam katekese sangat penting. Karena itu, setiap fasilitator perlu mempersiapkan diri dengan baik sebelum memimpin suatu proses katekese,” tegas Ibu Magdalena menutup materinya.

Usai menikmati snack sore, peserta kembali memasuki sesi praktik. Mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diberikan kesempatan untuk memerankan diri sebagai fasilitator katekese. Tim relawan mendampingi setiap kelompok, memberikan evaluasi, masukan, serta saran-saran praktis agar peserta semakin percaya diri ketika memimpin katekese di lingkungan masing-masing.

Selama hampir dua jam, aula dipenuhi berbagai simulasi katekese. Peserta bergantian memimpin diskusi, membuka pertemuan, mengarahkan dinamika kelompok, hingga menyimpulkan hasil sharing. Setiap latihan menjadi kesempatan belajar bersama. Kritik dan masukan diterima dengan terbuka, sementara apresiasi terus diberikan kepada setiap peserta yang berani mencoba.

Sebagai bentuk penghargaan atas kesungguhan mereka, Romo Sipri kembali memberikan hadiah berupa Kitab Suci Terjemahan Baru 2 (TB 2) kepada peserta yang dinilai mampu menjalankan peran fasilitator dengan baik selama simulasi berlangsung.

Menjelang akhir kegiatan, perwakilan dari setiap kelompok menyampaikan pesan dan kesan mereka. Hampir semua mengungkapkan rasa syukur karena mendapatkan metode baru dalam membaca Kitab Suci sekaligus bekal praktis untuk memimpin katekese. Mereka berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak umat memiliki kemampuan mendampingi pendalaman iman di lingkungan masing-masing.

Ketika malam mulai turun dan kabut kembali menyelimuti Kapan, rangkaian pelatihan akhirnya ditutup. Meski sejak pagi cuaca tetap dingin dan hujan tidak henti-hentinya turun, semangat peserta maupun tim relawan tidak pernah surut. Kehangatan justru hadir melalui kebersamaan, semangat belajar, dan kerinduan yang sama untuk semakin mencintai Sabda Allah.

Makan malam bersama menjadi penutup yang sederhana namun penuh makna. Di sela-sela hidangan hangat, obrolan ringan, diskusi, dan saling berbagi pengalaman terus mengalir. Hari yang panjang itu akhirnya berakhir bukan hanya dengan bertambahnya pengetahuan, tetapi juga dengan tumbuhnya keyakinan bahwa pewartaan Sabda Allah akan semakin hidup ketika dilakukan oleh para pelayan yang terus belajar, mau mendengar, dan setia membiarkan diri dibentuk oleh Sabda yang mereka wartakan.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *