Jumat, Januari 30, 2026
Berita

Animasi Pedoman Dialog Ekumenis: Menjadi Berkat melalui Dialog dalam Kebenaran dan Kasih

Kupang, 29 Januari 2026 — Komisi Hubungan Antaragama (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bekerja sama dengan Komisi HAK Keuskupan Agung Kupang (KAK) dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan kegiatan Animasi Pedoman Dialog Ekumenis. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 29 Januari 2026, bertempat di Aula Blasius, Paroki Naikoten, Kupang.

Kegiatan animasi ini menghadirkan RD Aloysius Budi Purnomo, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI, sebagai narasumber utama, dengan RD Erminus Fkun, Ketua Komisi HAK KAK, bertindak sebagai moderator. Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur, antara lain Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang, para pastor paroki, utusan kongregasi religius, Dewan Pastoral Paroki (DPP), Pemuda Katolik, serta para pegawai Kementerian Agama Provinsi NTT.

Dalam pemaparannya, RD Aloysius Budi Purnomo menegaskan bahwa kesadaran akan panggilan untuk menjadi berkat bagi orang lain merupakan dasar dari dialog, khususnya dialog ekumenis dan antarumat beragama. Dialog tidak dimaksudkan untuk mencampuradukkan iman atau mengaburkan perbedaan, melainkan untuk membangun relasi yang dilandasi kebenaran dan kasih.

Ia juga menekankan pentingnya mencari dan menyiapkan para pemangku kepentingan (stakeholder) sebagai penggerak dialog antarumat beragama di Keuskupan Agung Kupang. Sinergi yang saling menopang perlu dibangun, baik dengan organisasi lintas agama, media, maupun berbagai rumpun kemasyarakatan.

Tujuan utama dialog, lanjutnya, adalah membangun hubungan yang semakin mantap antar penganut agama dan kepercayaan, serta menghadirkan kesaksian iman yang membumi di tengah masyarakat. Salah satu praktik konkret dialog ekumenis adalah Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, yang bertujuan memulihkan relasi dan persaudaraan di antara orang-orang Kristen, bukan untuk menjadikan satu Gereja secara struktural, melainkan agar hidup rukun dan tidak menjadi batu sandungan bagi dunia. “Kita memiliki Kristus yang sama, meskipun Gereja kita berbeda. Karena itu, ekumenisme menjadi sebuah kewajiban,” tegasnya.

Dalam konteks ini, dialog tidak pernah meninggalkan evangelisasi. Dialog justru menuntut persiapan yang matang, pengetahuan iman yang memadai, serta identitas iman yang jelas, sehingga dialog tidak berubah menjadi pemaksaan atau kompromi yang keliru. Semua umat beriman dipanggil untuk berdialog, dengan peran khusus para uskup sebagai gembala dan guru iman, serta para imam—terutama pastor paroki—sebagai pembantu uskup.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa dialog dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain dialog kehidupan, dialog karya, dialog aksi nyata, dialog refleksi teologis, dan dialog pengalaman rohani, sebagaimana ditegaskan dalam dokumen Gaudium et Spes. Dialog harus dilakukan secara integral, lemah lembut, saling menghormati, rendah hati, dan penuh sukacita, namun tetap memerlukan aturan dan kejelasan.

Kegiatan ini juga menyoroti berbagai tantangan dan bahaya dalam dialog, seperti kurangnya minat untuk bersaksi tentang Kristus, kecenderungan reduksi dan relativisme, sinkretisme, lemahnya pemahaman iman, kesalahpahaman, serta sikap merasa diri paling benar. Karena itu, dialog sejati hanya mungkin terjadi bila dilandasi oleh kasih.

Melalui kegiatan animasi ini, para peserta diharapkan semakin diperlengkapi untuk menjadi pelaku dialog yang dewasa dalam iman, mampu membangun persaudaraan lintas iman, serta menghadirkan Gereja sebagai tanda harapan, persatuan, dan damai di tengah masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *