Mgr Hironimus Pakaenoni Pimpin Misa Pembukaan Yubelium 50 Tahun Karya Misi Suster RVM di Indonesia
Kupang, 12 Januari 2026 — Gereja Santa Maria Assumpta, Kota Baru Kupang, menjadi saksi pembukaan rangkaian Yubelium atau Pesta Emas 50 Tahun kehadiran Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM) di Indonesia. Perayaan Ekaristi Pembukaan dilangsungkan pada Senin, 12 Januari 2026, dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.
Perayaan Ekaristi ini menandai dimulainya rangkaian syukur atas setengah abad karya misi dan pelayanan Suster-suster RVM di Indonesia. Misa dihadiri oleh pimpinan kongregasi religius di Kota Kupang, perwakilan pemerintah, umat Paroki Santa Maria Assumpta, serta Pimpinan Distrik RVM Indonesia, Sr. Maria Tarcisia Tere Karangora, RVM, bersama seluruh suster RVM yang berkarya di berbagai wilayah.

Allah Hadir dalam Kerapuhan Manusia
Dalam homilinya, Mgr. Hironimus Pakaenoni mengajak umat merenungkan bacaan-bacaan Kitab Suci yang menurutnya diawali dengan gambaran tentang kekosongan dan kerentanan manusia. Ia menyinggung kisah rahim Hana yang tertutup, perjalanan para murid yang ditinggalkan, serta bayang-bayang penangkapan Yohanes Pembaptis.
Menurut Uskup Hironimus, gambaran-gambaran tersebut menyingkapkan paradoks iman Kristiani, yakni Allah justru hadir dan berkarya di tengah kerapuhan, risiko, dan ketidakberdayaan manusia, serta sanggup mengubah kemandulan menjadi kesuburan melalui rahmat-Nya.
“Hari ini kita diajak berdiri di Silo bersama Hana, istri Elkana, yang mengalami penghinaan dan penderitaan domestik yang memilukan. Namun, ia membawa seluruh kepedihannya kepada Tuhan semesta alam dalam doa yang hening dan penuh ketekunan,” ungkap Uskup Agung Kupang.
Ia menegaskan bahwa usia 50 tahun bukanlah waktu yang singkat, melainkan sebuah ziarah iman yang panjang, penuh dinamika jatuh bangun, namun ditopang oleh kesetiaan, pengorbanan, kerja keras, dan penyerahan diri yang tulus dalam melayani Tuhan dan Gereja.
Menurutnya, perjalanan Kongregasi RVM merupakan tanggapan atas rahmat Allah yang lebih dahulu berkarya, memanggil dan memilih orang-orang sederhana untuk menjadi pelayan dan murid Kristus di tengah dunia.

Berkat Nyata bagi Gereja dan Masyarakat
Mgr. Hironimus juga menegaskan bahwa kehadiran Kongregasi RVM di Indonesia telah menjadi berkat nyata, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, pembinaan iman, pelayanan sosial, serta pendampingan bagi mereka yang kecil, lemah, dan membutuhkan perhatian kasih.
Atas nama Gereja Keuskupan Agung Kupang, ia menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tulus kepada seluruh suster RVM, baik yang telah berkarya sejak awal maupun yang saat ini masih melanjutkan perutusan, khususnya di wilayah Keuskupan Agung Kupang.
“Melalui spiritualitas devosi kepada Bunda Maria, para suster RVM telah menghadirkan wajah Gereja yang penuh kasih, rendah hati, dan siap melayani,” tambahnya.
Uskup Hironimus mengajak para suster RVM untuk terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan evangelisasi baru yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan konkret umat, agar tetap menjadi mitra Gereja dalam membangun manusia seutuhnya di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Sejarah dan Perkembangan Kongregasi RVM
Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Distrik RVM Indonesia, Sr. Maria Tarcisia Tere Karangora, RVM, memaparkan sejarah singkat Kongregasi Religious of the Virgin Mary. Kongregasi ini didirikan pada tahun 1684 di Filipina oleh Venerable Ignacia del Espiritu Santo, dengan spiritualitas Bunda Maria sebagai “Hamba Tuhan yang hina” serta motto “Menuju Yesus Bersama Maria.”
Kongregasi RVM berkarya di berbagai bidang, antara lain pendidikan, pastoral, retret, pelayanan sosial dan kesehatan, asrama, serta pelayanan khusus sesuai kebutuhan Gereja lokal. Rumah induk Kongregasi RVM berada di Manila, Filipina, dan saat ini RVM berkarya di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Indonesia, Ghana, Italia, Taiwan, dan Swedia.
Pendiri Kongregasi RVM, Venerable Ignacia del Espiritu Santo, merupakan wanita religius Filipina pertama yang mendirikan komunitas Beaterio pada tahun 1684 setelah menjalani Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola. Ia wafat pada 10 September 1748 dan pada tahun 2007 dinyatakan memiliki kebajikan heroik oleh Paus Benediktus XVI.

Kehadiran Kongregasi RVM di Indonesia dimulai pada 12 Januari 1977 di Abianbase, Bali, atas undangan Uskup Denpasar saat itu, Mgr. Antonius Thijssen, SVD. Dari Bali, misi RVM berkembang ke Seon di Keuskupan Atambua, lalu meluas ke Kupang, Flores, Kalimantan Tengah, Lembata, hingga Timor Leste.
Dalam kurun waktu lima puluh tahun, Kongregasi RVM di Indonesia berkembang dari tiga suster misionaris asal Filipina menjadi 184 suster asal Indonesia yang telah berkaul dan melayani di berbagai negara. Saat ini terdapat 21 komunitas RVM yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, dan Timor Leste.

Rangkaian Kegiatan Yubelium Satu Tahun
Ketua Panitia Yubelium 50 Tahun RVM di Indonesia, Sr. Maria Fransisca Romana Yasmini, RVM, dalam laporannya menyampaikan bahwa perayaan syukur ini akan berlangsung selama satu tahun penuh. Rangkaian kegiatan dimulai dengan Misa Pembukaan pada 12 Januari 2026 dan akan berpuncak pada Perayaan Misa Syukur Puncak Yubelium pada 12 Januari 2027, yang juga akan dilaksanakan di Gereja Santa Maria Assumpta, Kupang.
Berbagai kegiatan telah direncanakan, antara lain pameran karya para suster, misa keliling dan aksi panggilan, bakti sosial kesehatan dan operasi katarak, live-in di Seon Malaka sebagai misi pertama RVM di Tanah Timor, pentas seni dan penggalangan dana, talk show “RVM Dulu, Kini, dan yang Akan Datang”, penanaman pohon, jalan sehat, serta kegiatan pastoral dan sosial lainnya.
Mengusung tema “Syukur atas Kasih Setia Tuhan”, perayaan emas ini diharapkan menjadi momentum refleksi atas perjalanan rahmat, pembaruan komitmen perutusan, serta peneguhan langkah ke depan agar Kongregasi RVM terus menjadi tanda kehadiran kasih Tuhan melalui pelayanan yang rendah hati, setia, dan penuh pengharapan bagi Gereja dan masyarakat.
