Selasa, Februari 24, 2026
Berita

Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo: AI Harus Menjadi Alat Pewartaan Logos

Bandung, 24 Februari 2026 – Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke-52 resmi dibuka dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, Ketua Komsis KOMSOS Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI) pada Selasa, 24 Februari 2026, di Gedung Bumi Silih Asih, Bandung. Kegiatan tahunan SIGNIS Indonesia ini mengangkat tema: “Artificial Intelligence dalam Terang Iman: Peluang dan Tantangan bagi Pastoral Komunikasi.”

Dalam homilinya, Mgr. Agustinus menegaskan bahwa komunikasi merupakan jantung persekutuan Gereja. Ia mengingatkan bahwa Gereja tidak dapat menjalankan misinya tanpa komunikasi yang hidup dan menjangkau dunia. “Gereja tidak boleh gagah di kandangnya sendiri,” tegasnya, seraya menekankan bahwa komunikasi adalah ujung tombak persekutuan dan misi Gereja.

Mengaitkan refleksinya dengan identitas SIGNIS, ia menyoroti makna nama SIGNIS yang berasal dari kata signum (tanda) dan ignis (api). Api menjadi lambang kobaran Roh Kudus yang harus terus menyala dalam karya komunikasi Gereja. Karena itu, para pelaku komunikasi sosial dipanggil untuk memastikan bahwa “api” misi Gereja tidak redup di tengah perubahan zaman.

Menanggapi perkembangan Artificial Intelligence (AI), Mgr. Agustinus menyatakan bahwa teknologi tersebut merupakan realitas yang tidak dapat ditolak. Ia mengibaratkan AI seperti hujan yang telah turun ke bumi dan meresap ke berbagai bidang kehidupan: pendidikan, kesehatan, bahkan teologi. “AI sudah meluncur. Kita tidak mungkin kembali ke titik nol,” ujarnya.

Namun demikian, ia juga mengingatkan adanya tantangan serius, termasuk potensi manipulasi informasi dan penyalahgunaan teknologi, seperti peniruan suara dan gambar. Karena itu, ia mengajak peserta rapat untuk tidak sekadar terpesona oleh kecanggihan teknologi, tetapi menemukan sikap iman yang tepat dalam menyikapinya.

Secara teologis, Mgr. Agustinus menghubungkan AI dengan konsep Logos dan Dabar—Firman Allah yang bukan sekadar bunyi, melainkan mengandung energi dan daya transformasi. Ia menegaskan bahwa AI harus menjadi alat untuk menyalurkan Logos Allah, bukan sebaliknya manusia yang diperbudak teknologi.

“Pertemuan ini bukan untuk terkejut bersama, tetapi untuk menemukan bagaimana teknologi ini dipakai demi misi Allah,” ungkapnya. Ia berharap Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke-52 menghasilkan refleksi dan langkah konkret agar komunikasi Gereja tetap menghadirkan energi sabda yang menyuburkan kehidupan umat.

Perayaan Ekaristi pembukaan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian sidang dan diskusi yang akan membahas secara mendalam peluang dan tantangan AI bagi pastoral komunikasi Gereja di Indonesia. Dengan semangat persekutuan dan kobaran api Roh Kudus, SIGNIS Indonesia diharapkan semakin relevan dan berdampak dalam menghadirkan wajah Gereja di era digital.

Bagikan ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *